Edisi Cetak

Raup Untung dari Jual Rebana

BENDA yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi warga Kalsel. Alat ini biasa digunakan untuk mengiringi salawat, barzanji atau maulid habsyi.

Raup Untung dari Jual Rebana
BANJARMASIN POST GROUP/AYA SUGIANTO

BENDA yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi warga Kalsel. Alat ini biasa digunakan untuk mengiringi salawat, barzanji atau  maulid habsyi. Alat musik jenis perkusi ini disebut rebana atau terbang.

Bisnis rebana ini sudah menjamur dan bisa ditemukan beberapa lokasi di Kabupaten Banjar. Seperti di Pasar Batuah dan di Jembatan Kembar Darusalam Martapura. Di dua tempat itu bisa ditemukan beberapa konter atau toko penjualan rebana atau hadrah ini.

Benda-benda yang biasa digunakan sebagai pengiring salawat untuk syiar Islam tersebut, ternyata bukan semuanya dipasok dari daerah lain. Tapi juga banyak yang diproduksi di Kawasan Kabupaten Banjar sendiri.

Pengrajin H Anwar misalnya. Pria yang punya empat toko penjualan rebana ini mengakui  awalnya hanya coba-coba. Ia menimba ilmu membuat rebana itu dari Jawa.

“Awalnya dari coba-coba memperbaiki terbang milik masjid di dekat rumah yang rusak, lalu saya berkeinginan untuk menjual rebana. Semula barang-barang masih dari Jawa, sekarang saya buat pabrik sendiri di rumah dan hasilnya kini lumayan,” sebut H Anwar.

Pengrajin terbang lainnya, Ibnu Rosyid, juga telah membuka tiga cabang di Martapura. “Ya, ada untung lalu kami kembangkan ke kawasan lain. Alhamdulillah kini saya sudah punya empat toko, di Pasar Batuah, jembatan Darusalam, Pesayangan dan di rumah sendiri di Antasan Senor Ulu,” katanya.

Prospek bisnis ini, diakui Rosyid, lumayan bagus. Bahkan dalam sehari omzetnya bisa sampai Rp 10 juta. “Ya, tergantung juga semakin banyak orang beli maka banyak pula pemasukan. Namun setidaknya saya terus memroduksi terbang itu sekitar 20 buah per harinya. Alhamdulillah ada saja laku, terkadang lebih dari 20 biji per hari,” ujarnya.

Rosyid mengaku sudah mempunyai lebih dari 10 karyawan. Karena untuk membuat terbang tersebut memang diperlukan banyak orang dan bahan dasar yang cukup banyak.

“Diperlukan kayu sebagai rangka atau kelontong, kulit, bahan pita paku pines, kencer dari bahan baku kuningan atau stainless steel, dan tukang tukang bubut kayu,” katanya.

Menurut Rosyid, pembeli mayoritas adalah grup atau kelompok pengajian habsyi. “Lainnya itu adalah pelancong dari daerah lain, bahkan dari mancanegara yang kebetulan singgah,” ujarnya.

Harga yang ditawarkan oleh Rosyid cukup bervariasi, tergantung dari besaran dan kualitas rebana atau terbang itu sendiri.

“Kalau di tempat saya, harganya ada yang Rp 125.000 sampai Rp 400.000. Bas saya dijual mulai Rp 100.000 sampai Rp 2 juta. Tergantung besar dan kualitasnya,” sebutnya.

Penjual lainnya H Syarifudin. Pemilik toko Batuah tersebut juga sampai membuka dua cabang untuk menjalankan bisnisnya.

“Lumayan banyak juga. Harga bervariasi mulai dari ratusan ribu sampai jutaan. Alhamdulillah ada pemasukan,” katanya. (nurholis huda-sigit)

Editor: Sudi
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved