Badandang Wujud Syukur Petani

HULU Sungai Selatan (HSS) merupakan salah satu kabupaten yang sebagian warganya bekerja sebagai

Badandang Wujud Syukur Petani

HULU Sungai Selatan (HSS) merupakan salah satu kabupaten yang sebagian warganya bekerja sebagai petani, terlebih di Kecamatan Sungairaya. Ada tradisi yang unik saat musim panen tiba di kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Tapin ini.

Tradisi unik itu adalah bermain layang-layang atau terkenal dengan permainan badandang. Menurut Saprudin, kepala Desa Hariti Kecamatan Sungairaya, permainan ini merupakan permainan musiman yang sudah turun menurun ada di Kecamatan Sungairaya. “Badandang sudah ada dari dulu, tradisi kami,” jelasnya.

Dia mengatakan badandang merupakan wujud syukur kepada Allah SWT atas panen yang melimpah. “Badandang dilakukan pascapanen, saat musim kemarau dan angin alam,” ujarnya.

Selain wujud syukur atas panen yang melimpah, badandang memang harus dilakukan saat kemarau karena memerlukan tempat yang luas. Karena itu, tradisi ini tidak mungkin dilakukan saat musim tanam.

Kepala desa yang biasa dipanggil Udin ini menjelaskan dandang merupakan bentuk layang-layang besar. Dengan ukuran lebar minimal dua meter dan panjang empat meter. Dilengkapi dengan dua buah kukumbangan. Kukumbangan merupakan media yang mengeluarkan suara. Biasanya terbuat dari ruas bambu besar. Semakin besar kukumbangan, harganya pun semakin mahal.

Kukumbangan biasanya diletakkan di bahu dandang dan diikat dengan tali. Sedangkan bibirnya diarahkan ke depan, sehingga bila embusan angin menerpanya, maka kukumbungan tersebut berbunyi.

“Saya punya kukumbangan yang berukuran 70 sentimeter dan diameter 13 sentimeter,” jelasnya.

Tubuh dandang sendiri terbagi ke dalam empat bagian. Bagian paling atas disebut patuk (kepala), kedua awak (badan), ketiga papat (sejenis kaki) dan keempat buntut (ekor) dan kain panjang sehingga meliuk-liuk ketika diterbangkan. “Karena besar, memang harus diterbangkan lebih dari dua orang,” jelasnya.

Di Desa Hariti, pelaksanaan badandang bertempat di RT 04. Untuk sekarang, pesertanya tidak melulu seorang petani. Karena ada pula ‘bos’ petani yang juga sebagai pegawai, ikut memainkan permainan tradisi ini.

“Sekarang acaranya tidak hanya untuk wujud syukur, tapi juga untuk mengeratkan tali silaturahmi,” jelasnya.

Karena bersifat permainan, Udin menegaskan tidak ada unsur mistis saat memainkan badandang. Dan tidak ada pengaruh atau dampak apapun jika permainan ini tidak bisa dilaksanakan.

Untuk di Hariti sendiri memang tiap tahun diadakan permainan ini. Tapi bukan karena takut, melainkan wujud melestarikan budaya saja.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Dahri, mengatakan badandang memang tradisi yang ada di HSS. Selama ini, dia tidak menemukan ada kejanggalan dalam tradisi ini.

“Kan cuma bermain kalayangan, setahu saya tidak ada unsur yang bertentangan, jadi syah-syah saja,” ujarnya.

Tapi, dia menegaskan saat melakukan badandang jangan sampai ada orkes-orkes yang ada goyang-goyangnya. “Selama ini baik, tapi saya belum meneliti lagi,” pungkasnya. (pramitha kusumaningrum-anjar wulandari)

Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved