Edisi Cetak

Gurihnya Usaha Jagung Bakar

MENYANTAP jagung bakar hangat di malam hari, memberikan kenikmatan tersendiri. Apalagi sambil bersantai

Gurihnya Usaha Jagung Bakar
BPost Group

MENYANTAP jagung bakar hangat di malam hari, memberikan kenikmatan tersendiri. Apalagi sambil bersantai bersama teman dan kerabat. Berbagai rasa jagung bakar bisa dinikmati, manis, pedas, atau original (tanpa bumbu).

Peluang usaha jagung bakar bisa dibilang cukup menjanjikan. Jagung bakar biasanya dijual di pinggir jalan sampai di mal atau restoran. Target marketnya pun tanpa pandang bulu, baik tua maupun muda, kaya atau miskin, semua menjadi sasaran market karena harganya yang relatif murah.

Seperti halnya di Banjarmasin, jagung bakar menjadi satu makanan favorit segala lapisan masyarakat. Buktinya ada sentra penjual jagung bakar yang setiap malam selalu ramai pengunjung, yaitu di Jalan DI Panjaitan dan di Jalan Piere Tendean.

Ikbal, penjual jagung bakar yang sudah 10 tahun berjualan jagung bakar di Jalan DI Panjaitan, mengungkapkan, paling ramai pengunjung adalah pada Sabtu malam. Penjualan hingga laku 70 jagung dalam semalam.

“Sedangkan malam biasa, rata-rata hanya terjual 50 jagung. Mengenai harga, seporsi Rp 8000,” ujar Ikbal yang di tempatnya berjualan juga menyediakan variasi makanan lain, semacam lempeng mariam.

Konsumen jagung bakar, selain orang lokal Banjarmasin ada juga dari luar kota yang sedang jalan-jalan ke kota ini. Para konsumen senang makan di tempat tersebut, karena suasananya yang bisa bersantai sambil ngobrol.

Buka dari pukul 16.30 sampai 24.00 Wita, para penjual jagung bakar menyediakan rasa sesuai pilihan, yaitu asin, pedas, manis, atau bisa juga asin-pedas, manis-pedas atau semua rasa dicampur pedas-manis-asin.

“Mengenai jagung sudah ada langganan pemasok yang mengantar ke sini. Jadi soal stok jagung tidak menjadi masalah, karena suplai dari para petani jagung cukup kontinyu,” terang Ikbal.

Zakaria, penjual jagung bakar lainnya di Jalan DI Panjaitan, yang sejak 3 tahun ikut membantu berjualan jagung bakar, mengatakan tiap Sabtu malam bisa menghabiskan 50-60 jagung.

“Sebagian besar konsumen menyantap di tempat, hanya beberapa konsumen yang membungkus untuk dibawa pulang,” jelasnya.

Zakaria juga mengatakan, sebagai tempat bersantai, kawasan jagung bakar tersebut juga dikunjungi konsumen dari luar kota. Pada Sabtu malam atau malam libur, pengunjung luar kota ramai mampir menikmati jagung bakar.

Mengenai proses pembakaran jagung, menurut Zakaria menggunakan arang, karena pembakarannya lebih alami. Setelah itu diolesi mentega dan bumbu penyedap. Penyajiannya, jagung diserut dengaan pisau, selanjutnya ditaruh di piring, siap disantap menggunakan sendok. (salmah-sigit)

Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved