Manajemen Hati Supaya Siap Dipoligami

Apa itu poligami? Jangan deeh... Mungkin kalimat itu sering kita dengar. Poligami atau ta’addud merupakan syari'at yang begitu jelas dalam Islam.

Manajemen Hati Supaya Siap Dipoligami
webmuslimah.com
ilustrasi 

SERAMBIUMMAH.COM -  Apa itu poligami? Jangan deeh... Mungkin kalimat itu sering kita dengar. Poligami atau ta’addud merupakan syari'at yang begitu jelas dalam Islam. Tidak ada perbedaan pendapat akan syari'at ini. Namun seolah olah dihadapan beberapa hamba Allah, syari'at poligami bak anak tiri yang mendapatkan perlakuan beda.

Sebenarnya apa yang menjadikan Sahabat Muslimah berat untuk menerima syari'at ini? Telah sampai begitu banyak problematika ummat ini yang berhubungan dengan masalah ini ke meja redaksi. Dengan risalah ini marilah kita bermuhasabah untuk menata hati, bukan membela diri. Mencari solusi, bukan menolak wahyu Ilahi.

Mungkin inilah yang menjadikan poligami bak sesuatu yang menakutkan.

1. Berat untuk mengamalkannya.

Insya Allah semua Sahabat Muslimah telah memahami akan kedudukan hukum poligami. Namun kenapa masih terasa berat ya? Bahkan berat banget deh rasanya. Mungkin ada beberapa hal yang harus Sahabat Muslimah benahi dalam memahami poligami.

a. Niat

Banyak orang menganggap poligami sangat erat hubungannya dengan syahwat laki-laki. Namun kalau kita lihat bagaimana panutan kita Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam menerapkan poligami ini amat sangat jauh dari kesan itu. Bahkan dari semua istri beliau, hanya 'Aisyah saja yang gadis. Dari situ kita tahu bahwa poligami ini dilakukan bukan karena nafsu semata.

b. Solusi masalah ummat

Sudah kita ketahui jumlah sahabat Muslimah saat ini berkali-kali lipat dari jumlah laki-laki. Kalau kita hitung secara matematis jelas diketahui bila semua laki-laki hanya beristri satu, pasti ada saudari kita Muslimah yang tidak memiliki pasangan. Terus bagaimana solusinya? Iya... Poligamilah satu satunya solusi terbaik.

c. Memperkuat ukhuwah

Islam sangat menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah. Bahkan ukuran inipun penjadi ukuran keimanan. Dan Islampun menggambarkan ukhuwah antar sesama muslim bagaikan satu tubuh. Dalam artian dikala ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lainpun akan ikut merasakannya. Bila anggota tubuh ada yang merasa nyaman, pasti anggota tubuh lainnya akan merasakan yang sama. Pun demikian seharusnya sahabat Muslimah.

Dikala sudah mengetahui bagaimana sulitnya menjaga hati bila Sahabat Muslimah belum berjodoh, maka selayaknyalah dirinya memikirkan saudarinya yang lain.

Dikala sudah mengetahui bagaimana baiknya karakter suaminya, maka selayaknyalah berbagi kebahagiaan itu untuk saudarinya yang lain.

Cos... Harusnya tidak ada lagi bagi Sahabat Muslimah memiliki rasa berat dikala pasangan hidupnya akan berpoligami. Justru seharusnya terucap dengan kalimat syukur "Alhamdulillah," karena telah diberi oleh Allah kedudukan yang mulia dan diberi kesempatan untuk berbuat kebajikan yang teramat sangat besar pahalanya. Subhanallooh...

2. Khawatir cintanya beralih

Cinta itu butuh pengorbanan. Itu kata yang harus dipegang. Tidak ada bahtera rumah tangga yang mulus tanpa riak. Dan sehebat-hebat riak bahtera rumah tangga biasanya terjadi di tiga sampai lima tahun awal pernikahan. Karena ditahun itulah terjadi proses saling memahami dan saling menghargai. Dimasa itulah nilai pengorbanan akan teruji.

Yakinlah bahwa nilai pengorbanan tidak akan luntur dan tak akan terlupakan. Yakinlah istri pertamalah yang paling mempengaruhi karakter suami. Disaat sang istri begitu setia mendampingi suami dikala susah dan senang, kenapa harus khawatir akan ditinggalkan suami? Nilai inilah yang dimiliki oleh Khodijah di hati Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bahkan karena kesetiaan Khodijah ini, menjadikan Aisyah cemburu. Kisah ini dijelaskan ketika suatu hari Aisyah bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah…mengapa engkau selalu mengingat-ingat dia? Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik dan lebih muda?” Mendengar demikian, Rasulullah menjawab: “Demi Allah… tidak demikian halnya! Allah tidak pernah memberikan pengganti yang lebih mulia darinya. Dialah yang beriman satu-satunya ketika semua orang mendustakanku. Dia yang menerima dan membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku. Dia pula yang melindungiku dengan hartanya di saat semua orang mengesampingkan aku. Dia pulalah yang memberiku beberapa putra, sedang dari yang lain tidak mendapatkannya”. Subhanallaah...

Kalau selama ini Sahabat Muslimah mampu mengurus dan melayani suami dengan akhlaq terbaik, kenapa khawatir kalau cinta suami beralih pada yang lain? Nggak mungkin kaan.....?

3. Merasa malu atau merasa turun derajatnya

Tahukah wahai Muslimah, sesungguhnya semua syari'at Allah akan membawa kita pada fitrah kehidupan. Termasuk disyari'atkannya poligami. Sesungguhnya poligami akan membawa pelakunya pada kemuliaan dihadapan Allah dan membawa para muslimah mendapatkan kedudukan yang mulia. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah hadits sebagai berikut :

Sesungguhnya pernah ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya ini utusan dari kaum perempuan kepadamu. Jihad (perang) diwajibkanAllah kepada kaum laki-laki. Jika mereka menang, mereka mendapatkan pahala, jika mereka terbunuh mereka masih tetap hidup di sisi Tuhan mereka lagi mendapat rezeki. Sementara kami, kaum perempuan membantu mereka. Lalu apa bagian bagi kami dalam hal ini?” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu temui, bahwa taat kepada suami dan mengakui hak-haknya adalah sama dengan itu (jihad di jalan Allah).”

Dari hadits di atas sangat jelas atas kedudukan poligami, ia salah satu hak suami, dikala Sahabat Muslimah mampu menerima dan mengamalkan ini dengan baik Insya Allah akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala laki-laki yang berangkan berjihad di jalan Allah.

Sahabat muslimah, semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kita semua dalam kebaikan dan berjalan diatas petunjuk yang benar. Semoga Allah senantiasa memberikan seluruh wahyu ilahi sebagai ukuran baik dan buruk dalam hidup kita dan menjadikan rasa senang dan benci dalam hati kita. Aamiin.
 

Editor: Edinayanti
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved