Breaking News:

Pasujudan Sunan Bonang

Pasujudan Sunan Bonang. Salah satu petilasan penyebar Islam di pantai utara Jawa itu selalu ramai dikunjungi para peziarah.

Editor: Edinayanti
wikipedia.org
Pasujudan Sunan Bonang itu berupa batu andesit berpermukaan datar. Batu terbesar dipercaya sebagai pasujudan atau tempat salat Sunan Bonang, karena ada bekas tubuh di sana. 

SERAMBIUMMAH.COM - Pasujudan Sunan Bonang. Salah satu petilasan penyebar Islam di pantai utara Jawa itu selalu ramai dikunjungi para peziarah. Letaknya di atas bukit yang di tepi Pantai Binangun. Situs ini berjarak 17 kilometer dari Kota Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Bonang, Kecamatan Lasem.

Untuk mencapai petilasan itu, para pengunjung harus berjalan naik ke bukit yang lumayan tinggi. Pengunjung harus menapaki undak-undakan yang berjumlah ratusan. Jika sudah sampai di puncak, barulah pengunjung akan menemui petilasan itu.

Pasujudan Sunan Bonang itu berupa batu andesit berpermukaan datar. Ada empat batu. Sekarang semuanya ditempatkan di dalam ruangan di sebuah musala. Dari empat batu itu, salah satunya berukuran besar. Batu terbesar itulah yang dipercaya sebagai pasujudan Sunang Bonang. Yaitu alas Sunan Bonang salat.

Belum ada penelitian ilmiah soal batu ini. Namun cerita yang berkembang di masyarakat menyebut batu itu sebagai tempat Sunan Bonang salat saat memancing di pantai. Menurut cerita, keempat batu tersebut mulanya berada di lereng bukit. Kemudian dibawa ke atas dan dibuatkan cungkup. Namun tak jelas mulai kapan cungkup itu dibuat.

Sunan bonang merupakan tokoh penyebar Islam di pantai utara Jawa yang cukup unik. Putra Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila ini punya jiwa seni yang sangat tinggi. Soal gamelan misalnya, Sunan Bonang menambahkan satu elemen instrumen yang akhirnya diberi nama bonang.

Ulama yang menuntut ilmu di Pasai ini juga lihai mendalang. Memainkan wayang di hadapan penonton. Kesenian inilah yang menjadi salah satu sarana efektif menyebarkan Islam. Sebab, kala itu kesenian ini memang digandrungi masyarakat.

Melalui cerita wayang itu, Sunan Bonang menyisipkan ajaran-ajaran Islam. Dia mengubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam dalam cerita Pandawa dan Kurawa yang menjadi lakon utama pewayangan.

Sunan yang lahir pada tahun 1465 ini juga pintar menciptakan tembang. Salah satu yang terkenal adalah tembang "Tombo Ati". Tembang itu masih langgeng hingga kini. Dan bahkan dinyanyikan dalam berbagai versi.

Sunan Bonang diyakini wafat pada usia enam puluh tahun. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Sunan Bonang tidak menikah hingga akhir hayatnya.

Kini, ada empat lokasi yang diyakini sebagai makam Sunan Bonang. Selain di bukit ini, ada tiga makam lain yang juga diyakini menjadi pusaranya. Pertama di belakang Masjid Agung Tuban. Kemudian di Tambak Kramat, Pulau Bawean. Selain itu di Singkal di tepi Sungai Brantas di Kediri.

Perbedaan ini disebabkan karena sejak awal tidak terbedakan antara makam dan petilasan atau tempat sang wali tinggal maupun mengajar. Di antara keempat tempat itu, yang paling banyak dikunjungi adalah makam di belakang Masjid Agung Tuban. 

Berita Populer
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved