Mengajari Anak Ucapkan Selamat pada Pemenang Ketika Kalah

Bisa jadi semuanya merasa kuat dan percaya diri bisa menang, tapi pada akhirnya hanya akan ada satu pemenang

Mengajari Anak Ucapkan Selamat pada Pemenang Ketika Kalah
net

SERAMBIUMMAH.COM -  Dalam kompetisi atau pertandingan pastinya ada menang dan kalah. Setiap orang yang terlibat dalam kompetisi tentunya memiliki kekuatan dan kelebihan masing-masing.

Bisa jadi semuanya merasa kuat dan percaya diri bisa menang, tapi pada akhirnya hanya akan ada satu pemenang. Yang kalah semestinya mengakui kelebihan rivalnya dan tak perlu ragu mengucapkan selamat kepada pemenang. Inilah yang perlu dilatih sejak dini kepada anak-anak kita.

Leadership Coach dan Motivator, Ainy Fauziyah, mengatakan, kalah dalam sebuah pertandingan/kompetisi semestinya tak membuat seseorang gagal mengelola emosi dan ego dirinya. Kalau sampai gagal, itu petanda harus berbenah diri.

Sikap tidak menerima kekalahan, kata Ainy, sama saja kita sedang membuat hati yang bersih menjadi ternodai.

"Kalah dalam pertandingan bukan akhir segalanya, tetapi kalau kalah mengelola emosi dan ego diri itu petanda harus benar-benar berbenah hati," kata Ainy kepada Kompas Female.

Ainy mengisahkan pengalaman bersama puteranya, Rafi, mengenai menerima kekalahan ini.

Rafi sewaktu duduk di SMP Kelas 1 mengikuti perlombaan piano. Ia begitu yakin bisa menjadi juara satu. Namun setelah pengumuman, ia tidak menyabet satu pun juara. Rafi kecewa luar biasa karena ia biasanya selalu menjadi juara. Ia juga merasa malu karena ada guru yang menyaksikannya langsung. Meski sedih, ia tetap memberi selamat kepada pemenang dan mengakui kelebihannya.

Sepulang lomba, Ainy bersama Rafi dan ayahnya refleksi diri. Ini kebiasaan yang dilakukan setiap kali mengalami suatu peristiwa apa pun.

"Kami terbiasa refleksi diri, tentang apa yang bisa dipelajari dari pengalaman itu. Apa yang bisa dipelajari dari kekalahan sekaligus memikirkan apa langkah selanjutnya untuk perlombaan Rafi berikutnya," tutur Ainy.

Refleksi diri ini terbukti ampuh mengatasi rasa kecewa akibat kekalahan. Setidaknya ini terjadi pada Rafi. Menurut Ainy, meski masih merasa kecewa, puteranya tersebut bisa mengungkapkan hal positif dan terbaik yang sudah dilakukannya. Ia juga mengakui kekurangan diri yang seharusnya diperbaiki. Sejak itulah Rafi bisa mengatasi rasa kecewanya dan kekalahannya lebih baik.

Apa yang terjadi pada Rafi juga bisa terjadi pada anak-anak Anda bahkan diri sendiri. Lantas bagaimana cara Anda membantu si kecil mengatasi kekalahan dalam sebuah kompetisi?

Editor: Sigit Rahmawan Abadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved