Breaking News:

Masjid Harlem, Warisan Pendakwah Muslim Legendaris Amerika

Dibangun sebagai pusat separatisme kulit hitam pada tahun 50an, Masjid Harlem yang didirikan oleh

Editor: Edinayanti
Wikipedia
Masjid ini cukup bersejarah. Telah menjadi bangunan lintas agama untuk berbagai ras dan agama, termasuk Kristen dan Yahudi. 

SERAMBIUMMAH.COM - Dibangun sebagai pusat separatisme kulit hitam pada tahun 50an, Masjid Harlem yang didirikan oleh pendakwah muslim legendaris di Amerika, Malcolm X telah menjadi bangunan lintas agama untuk berbagai ras dan agama, termasuk Kristen dan Yahudi.

"Ini adalah faktor pendorong bagi kita untuk membangun kehidupan masyarakat yang kuat dan bermartabat. Banyak orang ingin menjadi bagian dari Masjid Harlem, apakah mereka muslim atau bukan," kata Imam Izak-EL M. Pasha, pemimpin masjid kepada Wall Street Journal.

Masjid yang bernama asli Masjid Malcolm Shabazz itu dibangun pada 1956 dan menjadi markas Malcolm X berdakwah kepada kaum kulit hitam pengikut Black Nationalism.

Puluhan tahun kemudian, masjid itu mulai mengizinkan semua kelompok agama untuk menggunakan fasilitasnya.

Sifat terbuka administrasi masjid itu terlihat saat façade gereja Baptist Temple Church di dekatnya runtuh sehingga para jamaahnya terpaksa melakukan ibadah di Masjid Harlem. Sekelompok Yahudi yang tidak memiliki sinagoga juga melakukan ibadah di sana.

"Mereka benar-benar hangat dan ramah," kata Mia Simring, salah satu jemaah gereja. "Itu penting bagi saya bahwa kita bermitra dengan organisasi (Masjid Harlem) seperti itu."

Ketika facade runtuh, Masjid Harlem tidak hanya memberikan jemaat tempat baru untuk beribadah. Imam Pasha bahkan memerintahkan renovasi sebuah ruangan masjid untuk menampung jamaah gereja tanpa ditarik bayaran.

Perjalanan sejarah Masjid Harlem terbentang sepanjang puluhan dekade dan generasi. Masjid itu kini juga difungsikan sebagai tempat tujuan wisata terkenal di lingkungan Harlem.

Selama delapan tahun memimpin masjid yang punya nama lain Temple No. 7 itu, Malcom X menjabat sebagai juru bicara Nation of Islam. Ide Malcolm X adalah membela hak-hak kaum kulit hitam yang saat itu terpinggirkan dan menuntut pemisahan masyarakat bagi kulit hitam.

Setelah Malcolm X tak lagi menjadi pemimpin di masjid pada 1964, Temple No. 7 dipimpin oleh penggantinya, Louis Farrakhan. Malcolm X sendiri dibunuh pada 1965.

Pada 1975, ketika Elijah Muhammad meninggal, pimpinan Nation of Islam jatuh ke anaknya, WD Mohammed. Dia mempertahankan mayoritas pengikut ayahnya. Saat penobatannya, WD Mohammed berjalan ke atas panggung sambil membawa bendera Amerika untuk menandai era baru dengan merangkul semua masyarakat dari berbagai ras dan agama.

Saat ini, sekitar 200 orang beribadah di masjid untuk melakukan salat Jumat.

Selain tempatnya bersejarah, Masjid Harlem juga ikut membangun ekonomi dan moral di lingkungan Harlem, kata Neal Shoemaker yang menjalankan jasa wisata Harlem Heritage Tours di sekitar masjid.

"Mereka benar-benar mencoba untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik yang berguna bagi kemaslahatan yang lebih besar, apakah Anda hitam atau putih, muda atau tua."

Berita Populer
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved