Hibernasi; Mengadili Diri Sendiri

Adilnya, jika satu makhluk, sebut saja manusia. Apabila menghendaki kondisi yang seimbang. Sukses fisik dan sukses lahir, perlu menelaah kembali

Hibernasi; Mengadili Diri Sendiri

SERAMBI UMMAH.COM - “ADA kalanya kita butuh waktu sendiri untuk memahami definisi hidup.”

Hidup adalah konsekuensi logis atas dititipkannya nyawa dalam jasad. Di mana peluang itu disempurnakan dengan banyak indikator; bergerak, bernafas, menanggapi rangsang, berkembangbiak dan bermacam lainnya. Hingga dicapai pengertian atas suatu individu, “ia tahu kalau ia hidup, bagaimana hidup, untuk apa hidup dan kenapa hidup”. Untuk segala hal itulah, makhluk bernama manusia diberi anugerah luhur ternama, cipta – rasa – karsa. Hingga pada akhirnya, dibentuklah peradaban sebagai manifestasi dan kebudayaan tertinggi.

Hingar bingar kota, padatnya aktivitas, besarnya tuntutan tugas seolah menjauhkan karsa dari cipta dan rasanya. Istilah lainnya, tidak ada keseimbangan antara pemanfaatan anugerah kehidupannya. Karsa bekerja atas dominasi cipta (akal), yang diutamakan dari kondisi seperti ini adalah tujuan ‘besar’ tercapai, lantas disepakati sebagai bentuk kesuksesan. Sedang bagaimana kondisi rasa? Itu adalah kondisi di nomor kesekiannya. Serasa ada ruang kosong yang terkadang goncang, itulah salah satu effect dari pengesampingan sebuah rasa.

Adilnya, jika satu makhluk, sebut saja manusia. Apabila menghendaki kondisi yang seimbang. Sukses fisik dan sukses lahir, perlu menelaah kembali bagaimana tata kelola cipta, rasa dan karsa yang mereka miliki. Apa hak dan kewajiban ketiganya sudah terpenuhi, mana yang berlebih dan mana yang kurang? Itulah salah satu tugas pokok manusia dalam hidupnya. “Memahami definisi hidup itu sendiri”.

Untuk memahami definisi dari hidup, lengkap dengan penjabaran jawaban atas pertanyaan premis kehidupan, seorang manusia butuh waktu untuk bicara pada dirinya sendiri. Konteks bicara pada diri sendiri dapat diejawentahkan dengan ragam kondisi yang berbeda antar satu individu dengan individu lainnya. Dalam hening dan dengan terjaga, mungkin menjadi pilihan beberapa orang di antara kita, kalangan ini akan mencari waktu khusus di mana hanya ada dia, ciptanya, rasanya dan karsanya. Hanya ada dia dan dirinya yang tertekur dalam evaluasi. Namun juga ada banyak di antara kita yang memilih bergumul dalam kerasnya kehidupan untuk dapat membenturkan penilaian diri atas hidupnya. Namun ia tetap akan menyediakan settingan tempat berbeda agar bisa menghadirkan substansi “bicara dengan dirinya sendiri”.

Yang pernah hidup, punya tata cara sendiri untuk mengetahui bahwa ia hidup. Jika kemarin atau hari ini tengah singgah resah, gundah pun sedang ada segudang rasa salah dan tanpa tahu muara itu di mana asalnya, saat seperti inilah kita sedang perlu suasana beda. Sedang butuh waktu spesial yang ganda. Kenalkan diri pada kondisi hibernasi, karena terkadang kita perlu waktu untuk mengadili diri sendiri. Hisablah dirimu sebelum di hisab. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved