Breaking News:

Rezeki dari Kreativitas Mengolah Limbah Kotak Susu

Didorong keinginan untuk menanggulangi permasalahan lingkungan di kampusnya, Putri Nursakinah terdorong untuk memanfaatkan

Editor: Edinayanti
kontan
kerajinan kotak susu 

SERAMBIUMMAH.CO.ID - Didorong keinginan untuk menanggulangi permasalahan lingkungan di kampusnya, Putri Nursakinah terdorong untuk memanfaatkan bekas kemasan susu berbahan kemasan Tetrapack sebagai bahan membuat kerajinan.

Ia pun memilih kerajinan Jepang, yakni papertole tiga dimensi. Makanya, produk kerajinannya dinamakan tetratole. "Mahasiswa kan lebih suka mengonsumsi minuman berkemasan Tetrapack dibandingkan kemasan botol, makanya banyak bekas sekali kemasan itu di kampus saya," katanya.

Padahal, kemasan Tetrapack mengandung aluminium foil yang susah terurai di dalam tanah. Prihatin dengan kondisi itu, ia lalu mengajak lima orang rekannya untuk mengolah limbah tersebut menjadi sovenir tetratole.

Awalnya, Putri hanya menjadikan kegiatan ini sebagai ajang iseng-iseng untuk mengikuti program Pekan Kreativitas Mahasiswa di Institut Pertanian Bogor. “Habis itu, bisnisnya diseriusin,” ujarnya.

Dari tangan kreatifnya, Putri membuat aneka kerajinan. Antara lain, lukisan dinding tiga dimensi, hiasan meja, patung, pigura, dan sebagainya.

Putri juga membuat hiasan dinding yang mengangkat landmark kota-kota besar di Indonesia, seperti Tugu Monas Jakarta dan Tugu Kujang Bogor.

Produk kerajinannya ini dihargai mulai Rp 50.000 hingga Rp 200.000 per buah. “Masih terbilang terjangkau, karena segmentasi masih seputar mahasiswa dan anak muda, merekalah yang memiliki kesadaran tinggi untuk cinta terhadap lingkungan,” jelasnya.

Dalam sehari, Putri dan teman-temannya mampu memproduksi hingga 10 pieces lukisan dinding. Produksi tersebut dibantu satu orang tenaga lepas. Meskipun hanya memiliki satu rumah produksi di Bogor, saat ini ia sudah melayani konsumen di seluruh Pulau Jawa, khususnya di Jabodetabek.

Sayangnya, setelah ia dan rekan-rekannya lulus kuliah, mereka mulai berpisah karena kesibukan masing-masing. Kini praktis tinggal Putri saja yang melanjutkan kerajinan ini.

Akibatnya, tetratole tidak bisa menjalankan produksinya secara optimal. “Cuma dibantu satu orang karyawan, sehingga kami hanya menerima orderan untuk inovasi produknya terhenti sementara waktu,” ujarnya.

Selain tenaga, bisnis ini juga terkendala minimnya pasokan bahan baku khusus Tetrapack. Soalnya, dia hanya mengandalkan sampah yang dikumpulkan oleh para pemulung di sekitar kediamannya.

Ia berharap ke depannya bisa mendapatkan pemasok yang menjual kemasan bekas Tetrapack. Putri juga berencana membuka toko khusus yang menjual produk tetratole bikinannya. “Saya juga akan menambah varian produk sehingga tidak itu-itu saja,” ujarnya.         

Baca Juga
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved