Breaking News:

Menimbang Pedasnya Laba Kemitraan Ayam Gepuk

Menu olahan ayam sangat bervariasi karena hampir setiap daerah di Indonesia memiliki resep khas daerah masing-masing.

Editor: Edinayanti
kontan.co.id
ayam gepuk 

SERAMBIUMMAH.COM - Menu olahan ayam sangat bervariasi karena hampir setiap daerah di Indonesia memiliki resep khas daerah masing-masing. Salah satunya adalah ayam gepuk khas Ponorogo, Jawa Timur.

Ayam gepuk merupakan olahan ayam goreng yang penyajiannya dipukul sampai gepeng. Sebelum digoreng, ayam direbus dulu sampai kering sehingga lebih gurih saat digoreng.

Ayam ini disajikan lengkap dengan bumbu rempah yang ditabur di atasnya. Menyantap ayam ini tak lengkap rasanya bila tidak ditemani sambal ulek yang rasanya sudah pasti nendang.

Arifin mengklaim, sambal bikinnya memiliki rasa yang dijamin enak. "Sambal kami yang paling disukai bukan seperti sambal pecel lele yang pedas manis. Jadi ini rasanya pedas asli dan segar," katanya.

Salah satu pemainnya adalah Mochamad Arifin, pemilik Ayam Gepuk Pak Gembus di Yogyakarta. Merintis bisnis sejak 10 tahun lalu, kini ia resmi menawarkan kemitraan usaha.

Sampai saat ini, jumlah gerainya sudah ada 12 unit yang berlokasi di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Dari 12 gerai itu, gerai milik sendiri ada dua di Yogyakarta dan Jakarta.

Dalam kemitraan ini, Ayam Gepuk Pak Gembus menawarkan paket investasi senilai Rp 27 juta. Mitra mendapatkan peralatan masak lengkap dan bumbu-bumbu. Untuk bahan baku seperti ayam, mitra harus menyiapkan sendiri.

Seporsi Ayam Gepuk Pak Gembus dihargai Rp 30.000. Dengan target penjualan 40 porsi per hari, mitra bisa mendapatkan omzet sebesar Rp 1,2 juta per hari atau setara Rp 40 juta per bulan.

Setelah dipotong uang operasional, bahan baku dan gaji dua karyawan, mitra masih bisa mengantongi laba bersih sekitar 40% dari omzet bulanan. Dengan begitu, mitra bisa balik modal dalam tiga bulan.

Menurut Arifin, target itu sangat mungkin tercapai bila lokasi berjualan strategis. Namun, ia tidak merekomendasikan lokasi berjualan ruko atau di mal. Menurutnya, lebih strategis berjualan di pinggir jalan yang banyak dilalui kendaraan.

Minimal luas tempat yang dibutuhkan sekitar 4 meter x 7 meter. Hingga akhir tahun 2014 ini, ia menargetkan bisa menambah empat sampai lima gerai lagi di sekitar Jabodetabek. Ia optimistis, bisnisnya terus berkembang karena kuliner olahan ayam masih banyak peminatnya.
 

Berita Populer
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved