Breaking News:

Sang Cipta Rasa: Masjid Berlegenda `Azan Pitu`

Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau Masjid Agung Cirebon menjadi salah satu masjid tua di tanah Jawa. Usianya lima ratus tahun lebih.

Editor: Edinayanti
Kemenag
Azan pitu itu konon dilakukan karena setiap menjelang salat subuh masjid ini diganggu oleh Aji Menjangan Wulung yang datang menebarkan petaka. 

SERAMBIUMMAH.COM - Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau Masjid Agung Cirebon menjadi salah satu masjid tua di tanah Jawa. Usianya lima ratus tahun lebih. Namun hingga kini masih berdiri perkasa dan menjadi tempat umat muslim beribadah.

Masjid ini dibangun di kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat. OLeh karena itu, tempat ibadah ini disebut juga dengan nama Masjid Agung Kasepuhan. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang bermakna keagungan, "cipta" artinya dibangun, dan "rasa" berarti digunakan.

Konon, masjid ini dibangun sekitar tahun 1480 atau semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Menurut cerita, pembangunan masjid ini melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon.

Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.

Salah satu keunikan Masjid Sang Cipta Rasa antara lain terletak pada atapnya yang tidak memiliki puncak atap sebagaimana yang lazim ditemui pada atap masjid-masjid di Pulau Jawa. Soal ini, ada legenda unik di baliknya.

Menurut kisah, masjid ini dulu memiliki memolo atau puncak atap. Saat azan pitu (tujuh) salat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah itu pindah ke Masjid Agung Banten, yang sampai kini punya dua kubah. [Baca juga: Masjid Agung Banten: Karya Empu Majapahit Hingga Menir Belanda]

Azan pitu itu konon dilakukan karena setiap menjelang salat subuh masjid ini diganggu oleh Aji Menjangan Wulung yang datang menebarkan petaka. Beberapa muazin yang mencoba mengumandangkan azan tewas karena ilmu itu. Untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, Sunan Gunung Jati memerintahkan tujuh orang muazin mengumandangkan azan secara bersamaan.

Karena cerita itu, sampai sekarang setiap salat Jumat di masjid yang terletak di Jalan Keraton Kasepuhan 43, Kelurahan Kesepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, ini digelar Azan Pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.

Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon. Ini sebagai simbol tempo dulu Cirebon dihuni orang dari berbagai latar etnik. Masjid ini terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama.

Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu. Jumlah ini melambangkan Wali Songo. Pintu utama berada di sisi timur, sejajar dengan mihrab. Pintu utama nyaris tak pernah dibuka, kecuali pada saat salat Jumat, salat hari raya, dan peringatan hari-hari besar Islam.

Delapan pintu lain berada di sebelah kanan dan kiri. Ukuran kedelapan pintu ini lebih kecil dari pintu normal, sehingga orang yang masuk harus merunduk, sebagai simbol penghormatan. Di bagian dalam, ada 12 tiang dari kayu jati di dalam masjid ini. Tinggi tiang-tiang itu sekitar 14 meter dengan diameter sekitar 60 centimeter.

Pada bagian mihrab, terdapat ukiran berbentuk bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Di mihrab itu juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Konon, ubin tersebut dipasang oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga, pada awal berdirinya masjid.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini memiliki dua maksurah atau tempat salat khusus untuk keluarga keraton. Satu maksurah berada di shaf paling depan sebelah kanan mihrab dan mimbar. Tempat ini khusus untuk Sultan dan keluarga keraton Kasepuhan. Sat maksurah terletak di shaf paling belakang, di samping kiri pintu utama. Maksurah ini untuk Sultan dan keluarga Keraton Kanoman.

Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat `sumur zam-zam` atau Banyu Cis Sang Cipta Rasa. Air ini banyak diburu orang, terutama pada bulan Ramadan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang. (drc)

Berita Populer
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved