Breaking News:

Al Mashun: Masjid Kejayaan Kesultanan Deli

Masjid Raya Al Mashun menjadi bukti kejayaan Kesultanan Deli di masa lampau. Masjid yang dibangun pada masa Sultan Sultan Ma’mun

Editor: Edinayanti
www.flickr.com
Masjid Raya Al Mashun 

SERAMBIUMMAH.COM - Masjid Raya Al Mashun menjadi bukti kejayaan Kesultanan Deli di masa lampau. Masjid yang dibangun pada masa Sultan Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam itu hingga kini masih berdiri gagah di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, Sumatera Utara.

Masjid ini dibangun selama tiga tahun, dimulai tanggal 21 Agustus 1906. Pembukaan masjid ini ditandai dengan salat Jumat pada 10 September 1909 atau tanggal 1 Rajab 1324 Hijriyah. Sebagai simbol ketaatan pada Tuhan, Sultan Ma’mun sengaja membangun masjid kerajaan ini lebih megah daripada Istana Maimun, tempatnya tingal.

Dibutuhkan dana 1 juta Gulden untuk pembangunannya. Dana itu ditanggung oleh Sultan Ma’mun. Namun ada riwayat lain yang menyebut tokoh China di Medan, Tjong A Fie, turut mendanai pembangunan masjid yang kini sudah berusia satu abad ini.

Pada mulanya, masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda, Van Erp, yang juga merancang Istana Maimun. Tapi kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman, setelah Pemerintah Belanda memanggil Van Erp ke Pulau Jawa untuk bergabung dalam proses restorasi Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara gaya Timur Tengah, India, dan Spanyol. Sebagian bahan bangunan diimpor. Marmer untuk dekorasi didatangkan dari Italia dan Jerman, kaca patri dari Cina, dan lampu gantung langsung dibeli dari Prancis.

JA Tingdeman merancang masjid ini dengan bentuk segi delapan, dengan memiliki sayap di bagian selatan, timur, utara dan barat. Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik. Ruang utama yang menjadi tempat salat berbentuk segi delapan.

Bagian kubah utama mengikuti model Turki, berbentuk patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikelilingi empat kubah lain di atas keempat beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Kubah ini ditopang oleh delapan pilar utama berdiameter 60 centimeter yang menjulang di tengah bangunan utama.

Di keempat penjuru masjid diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, yang mengelilingi kubah utama tadi. Tiap beranda juga dilengkapi dengan pintu utama dan tangga yang menghubungkan antara pelataran dengan lantai utama masjid.

Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri berharga, sisa peninggalan Art Nouveau periode 1890-1914, dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamen di tiang, plafon, maupun dinding, berbentuk bunga dan tumbuhan.

Sementara, bagian mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing. Gerbang Masjid Raya Al Mashun berbentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara masjid berhias paduan antara Mesir, Iran, dan Arab. (drc)

Berita Populer
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved