Breaking News:

Masjid Raya Bandung: Sentuhan `Kubah Bawang` Soekarno

Masjid ini dulu bernama Masjid Agung Bandung. Tak hanya nama. Bentuk masjid pun juga beberapa kali berubah.

Editor: Edinayanti
www.panoramio.com
Bentuk masjid beberapa kali berubah. Semula kental dengan ciri khas bangunan Sunda. Setelah bersolek masjid itu lebih mirip wajah Arab. 

SERAMBIUMMAH.COM - Masjid ini dulu bernama Masjid Agung Bandung. Tak hanya nama. Bentuk masjid pun juga beberapa kali berubah. Semula kental dengan ciri khas bangunan Sunda. Setelah bersolek masjid itu berwajah Arab.

Cikal bakal masjid ini dibangun dua abad silam. Sejak berdiri hingga kini telah mengalami delapan perombakan pada abad ke-19 dan lima kali pada abad berikutnya. Masjid itu terakhir kali direnovasi pada 2001 dan diresmikan 4 Juni 2003.

Cikal bakal masjid ini dibangun pada 1810. Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat Kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota yang sekarang.

Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana. Tiang-tiangnya terbuat dari kayu dengan dinding anyaman bambu. Atapnya pun terbuat dari rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudu.

Pada tahun 1826 dilakukan perombakkan bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu serta atapnya dengan bahan dari kayu. Perombakan dilakukan lagi tahun 1850 seiring pembangunan Jalan Groote Postweg atau yang kini disebut Jalan Asia Afrika. Masjid diperluas atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV. Atap diganti dengan genteng, dinding dibuat dari batu bata.

Hasil renovasi tahun 1850 itu sangat megah pada zamannya. Sampai-sampai diabadikan dalam kanvas oleh pelukis Inggris, W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung.

Seperempat abad berselang, masjid ini kembali dirombak. Pada 1875 itu, dilakukan penambahan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi masjid. Masyarakat setempat kemudian menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan. Mulai kajian agama hingga pernikahan.

Sehingga pada tahun 1900 sejumlah bagian ditambahkan. Kala itu dibangunlah mihrab dan pawestren atau teras di samping kiri dan kanan. Pada 1930, perombakan kembali dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pada kiri dan kanan masjid.

Dua menara itu di bagian pucuknya sama dengan bagian atap masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung.

Perombakan besar-besaran terjadi menjelang konfrensi Asia Afrika tahun 1955. Berdasar rancangan Sukarno, yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia, masjid ini dirombak total. Di antaranya kubah yang berbentuk nyuncung diubah menjadi kubah persegi empat bergaya Timur Tengah, bentuknya seperti bawang.

Selain itu, menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar. Sehingga masjid terdiri dari sebuah ruangan besar dengan halaman yang sangat sempit. Masjid Agung Bandung dengan wajah baru ini digunakan untuk salat para tamu peserta KAA.

Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Kubah itu rusak karena dihajar angin kencang dan kemudian diperbaiki pada 1967. Kubah bawang itu akhirnya diganti dengan kubah baru pada tahun 1970.

Pada 1973, Gubernur Jabar mengeluarkan Surat Keputusan untuk melakukan perombakan besar. Lantai masjid diperluas dan dibuat bertingkat. Basement dibangun sebagai tempat wudlu. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.

Perubahan total terjadi lagi pada tahun 2001 sebagai bagian dari rencana penataan ulang Alun-alun Bandung. Dalam perencanaan itu penataan Masjid Agung dan alun-alun menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Proses peletakan batu pertama dilakukan tanggal 25 Februari 2001. Pembangunan kembali masjid ini memerlukan waktu 829 hari atau 2 tahun 99 hari, sejak peletakan batu pertama hingga diresmikan tanggal 4 Juni 2003 oleh Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana. Masjid baru ini didesain empat perancang kondang dari Bandung, yaitu Ir. H. Keulman, Ir. H. Arie Atmadibrata, Ir. H. Nu’man, dan Prof. Dr. Slamet Wirasonjaya.

Secara seluruhan proses pembangunan dan penataan ulang kawasan alun-alun dan masjid Agung Bandung selesai pada 13 Januari 2006. Nama Masjid Agung Bandung berubah nama menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Kini, Masjid Agung itu tampil megah. Masjid ini punya kubah besar di tengah-tengah bangunan utama. Di bagian kanan dan kirinya terdapat kubah yang relatif lebih kecil. Masjid itu juga punya dua menara yang menjulang 81 meter yang selalu dibuka untuk umum setiap Sabtu dan Minggu.

Luas bangunan pun bertambah, kini mencapai 8.575 meter persegi, sedangkan tanahnya seluas 23.448 meter persegi. Masjid yang berlokasi di dekat Jalan Asia Afrika itu sekarang dapat menampung sekitar 13.000 jamaah. (Dari berbagai sumber)

Berita Populer
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved