Hikmah Aisyah Dinikah Muda oleh Baginda Nabi SAW

Daripada terus-menerus berada dalam hubungan tak halal. Nabi SAW saja menikahi Aisyah ketika dia masih berusia muda.

Hikmah Aisyah Dinikah Muda oleh Baginda Nabi SAW

SERAMBI UMMAH.COM - MENJALIN kasih sebelum menikah—sebut saja pacaran—agaknya sudah menjadi hal yang biasa hari ini. Padahal Allah swt. sangat tidak menyukai hal tersebut yang telah mendekatkan kepada zina yang lebih besar. Mirisnya ketika ditawari menikah, belum tentu si pasangan itu merasa siap. Dan alasan yang paling sering adalah masalah umur.

Memangnya kenapa bila menikah muda? Daripada terus-menerus berada dalam  hubungan tak halal. Nabi SAW saja menikahi Aisyah ketika dia masih berusia muda. Dan ternyata banyak hikmah yang di dapatkan dari menikahnya Nabi SAW dengan Aisyah. Berikut hikmah Aisyah dinikah muda oleh Rasulullah SAW.

Pertama harus diyakini bahwa segala perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah bukanlah berdasarkan hawa nafsu atau keinginan manusiawi semata-mata, tetapi semuanya dilakukan dengan perintah Allah subhana wataala. Demikian juga pernikahan nabi Muhammad saw dengan Aisyah, puteri dari sahabat yang terdekat Abubakar Shiddiq.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah selama tiga malam berturut-turut bermimpi bahwa malaikat datang kepada nabi membawa gambar Aisyah yang dibungkus dengan kain sutera dan mengatakan ini adalah isterimu. Rasulullah saw berkata kepada Aisyah, “Aku melihat engkau (Aisyah ) dalam mimpi sebanyak dua kali. Aku melihat engkau berada dalam bilik yang diperbuat daripada kain sutera. Ada suara berkata, “Inilah isterimu.” Kemudian aku menyingkap tirai muka itu dan terlihat jelas wajahmu,” Maka aku katakan  “Sesungguhnya kejadian ini adalah atas kehendak Allah swt.” (Bukhari).

Dari hadits di atas dapat kita lihat bahwa keinginan Nabi Muhammad SAW menikahi Aisyah bukan karena hawa nafsu tetapi karena perintah Allah yang dartang kepada beliau melalui mimpi. Dalam perintah yang disampaikan Allah memalui mimpi yang terkandung hikmah dan pelajaran untuk kepentingan risalah islamiyah yang dibawa oleh Rasulullah kepada umat manusia. Dengan demikian sangkaan sebagian orang bahwa pernikahan tersebut karena hawa nafsu adalah salah, sebab Nabi Muhammad melakukan pernikahan berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah subhana wa taala.
Setelah itu Rasulullah saw mengutus Khaulah binti Hakim, isteri Usman bin Mahzun untuk meminang Aisyah kepada keluarga Abubakar Shiddiq.

Khaulah berkata, “Wahai Abubakar, Rasulullah telah mengutusku kemari untuk meminang anakmu Aisyah.” Abubakar menjawab, “Adakah anakku ini sesaui untuk baliau, sedangkan anakku ini adalah anak saudaranya sendiri?”

Khaulah kembali kepada rasulullah menceritakan kepada beliau apa yang telah berlaku.

Rasulullah berkata, “Kembalilah kamu kepadanya ( Abubakar) dan katakan kepadanya bahwa aku ini saudaranya dan dia adalah saudaraku dalam Islam, sedangkan anak perempuan itu ( Aisyah ) baik untukku.” Khaulah kembali menjumpai Abubakar dan menceritakan apa kata nabi. Maka Abubakar berkata  “Tunggulah dulu,” kemudian dia masuk ke kamar dan keluarlah Ummu Ruman (isteri Abubakar ) berkata kepada Khaulah sebenarnya Muh’im bin Ady pernah merencanakan agar anaknya dijodohkan dengan Aisyah, dan Abubakar adalah orang yang tepat dengan janji.

Abubakar segera ke rumah Mut’im bin Adhi ingin menanyakan tentang bagaimana hubungan dengan anaknya tersebut. Sebaik tiba di rumah Mut’im, isteri Mut’im berkata, “Wahai Abubakar, semoga kamu tidak menyusahkan anakku jika dia dinikahkan dengan anakmu.”

Abubakar berkata, “Wahai Mut’im , adakah aku yang berkata demikian?”

Halaman
12
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved