Perbuatan Orang Kafir

Menurut Ibn Katsir di dalam tafsirnya, manusia jenis ini

Perbuatan Orang Kafir
serambiummah.com/net
ilustrasi

SERAMBIUMMAH.COM - BERBOHONG atau berdusta, sesungguhnya tidak akan dilakukan kecuali orang-orang yang kafir.
Sebagaimana Allah Ta’ala jabarkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl [16]: 105).

Menurut Ibn Katsir di dalam tafsirnya, manusia jenis ini (yang suka melakukan kebohongan) tidak akan mendapatkan petunjuk menuju iman kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya serta apa yang di bawa oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu alayhi wasallam.

Dan, kelak di akhirat, manusia jenis ini akan mendapat siksaan yang menyedihkan lagi menyakitkan.

Artinya, amat disayangkan, apabila Allah telah memberikan kita hidayah, sehingga memilih Islam sebagai jalan hidup, namun disaat bersamaan, atas nama kepentingan sesaat, kita merelakan diri sendiri menjadi pembohong. Sebab, jika itu dilakukan, apalagi yang membedakan kita dengan orang kafir selain sekedar status belaka?

Tanggung Jawab Ulama

Apabila kebohongan, dengan berbagai macam istilah yang digunakan sebagai kedok belaka sudah merajalela. Kemudian pada hakikatnya, semua orang sudah menyadari, namun terus dibiarkan terjadi, maka Allah akan mempertanyakan posisi dan peran ulama.
Sebagaimana hal itu pernah dilakukan oleh kaum Yahudi yang sangat gemar pada perbuatan dosa, namun para ulama kaum Yahudi membiarkannya begitu saja.

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu” (QS. Al-Maidah [5]: 63).

Ibn Katsir menerangkan, ulama yang dimaksud adalah ulama yang memiliki posisi kekuasaan atau mempunyai jabatan (rabbaniyyun). Sedangkan Al-Abbar adalah ulama saja.

Dan, bersumber dari ayat ini, Adh-Dhahak berkata, “Di dalam Al-Qur’an tidak terdapat ayat yang lebih saya takuti dari pada ayat ini, karena kita (mendakwahi untuk) tidak melarang (hal tersebut)”.

Dengan demikian, para ulama dengan berbagai jenjang dan posisinya, harus terus mengedukasi umat untuk tidak meremehkan kebohongan-kebohongan. Sebab, Al-Qur’an telah memberikan petunjuk bahwa ulama harus berada pada baris terdepan dalam memberantas kebohongan.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved