Pria Australia Peluk Islam karena `Kaya Toleransi`

Perjalanan pria Australia, Zarif Aarif dalam mengenal Islam bermula saat mengunjungi Maroko dan Granada di distrik Andalusia di masa mudanya.

Editor: Edinayanti
net
ilustrasi 

SERAMBIUMMAH.COM - Perjalanan pria Australia, Zarif Aarif dalam mengenal Islam bermula saat mengunjungi Maroko dan Granada di distrik Andalusia di masa mudanya.

Zarif sangat kagum dengan budaya Islam yang tergambar dalam istana Alhambra yang sekarang menjadi gereja.

Ketika beranjak dewasa, Zarif diterima di sekolah Alkitab di Tabor. Di sinilah dia bisa melakukan studi tentang agama lain, termasuk Islam.

Selama menjadi mahasiswa di sekolah agama tersebut, muncul banyak pertanyaan mengenai agamanya. Namun Zarif tidak pernah mendapat jawaban yang pasti dan memuaskannya.

Setelah beberapa lama, Zarif memutuskan keluar dari sekolah tersebut dan bekerja di sebuah perusahaan investasi di Jeddah dan Riyadh.

Di dua kota tersebut, Zarif tertarik untuk belajar tentang Islam. Dengan begitu, dia bisa melihat perbedaan antara keyakinannya dengan Islam. Syukur-syukur jika ada yang bisa menjawab semua keraguannya selama ini.

Merasa kutu buku, Zarif menyempatkan diri ke sebuah toko buku Islam di dekat hotel dan membeli beberapa buku. Beberapa hari kemudian dia meminta asistennya, Mahmoud, untuk mencarikan salinan Alquran.

Dengan bimbingan seorang guru, Zarif diberi pemahaman soal isi Alquran melalui sebuah terjemahan. Setelah itu, Zarif mencoba untuk membacanya sendiri dan dia berdoa agar dituntun dalam mempelajari Alquran. Ayat pertama yang dibacanya adalah tentang orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).

Zarif begitu kagum dengan Islam. Selain toleransi, agama ini juga inklusif terhadap agama yang dianggap berlawanan. Zarif terus membaca dan mempelajari Alquran.

Setelah tujuh tahun berlalu, Zarif berkenalan dengan seorang muslimah asal Indonesia. Dengan muslimah ini, Zarif terus menjalin kontak dan sekaligus mempelajari Islam semakin dalam.

Saat berkunjung ke Indonesia, Zarif melamar muslimah tersebut dan ketika kembali ke Australia, mereka menikah. Meski menikah beda agama, Zarif sangat menghormati keyakinan istrinya.

Zarif mencoba beradaptasi dengan istrinya. Namun beberapa bulan kemudian, Zarif merasa bahwa pendekatan yang dilakukannya untuk menyisihkan perbedaan agama dalam pernikahannya tidak bisa bertahan lama.

Zarif pun terombang-ambing antara mempertahankan pernikahan beda agama atau meninggalkannya. Selama berbulan-bulan, dia berdoa untuk meminta petunjuk. Hingga suatu saat dia sudah mantap untuk memeluk Islam.

Ia merasa tidak ada alasan untuk memeluk Islam selain mempertahankan pernikahan dan kemauannya sendiri. Karena dia sudah belajar Islam dan Alquran sejak lama. Hanya selama ini dia merasa malas berdoa.

Jadi, Zarif mulai menjalankan komitmennya dan belajar untuk salat. Setelah beberapa bulan kemudian, dengan ditemani istrinya, Zarif ke Masjid Perth untuk mengucapkan kalimat syahadat.

"Itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Aku sekarang masih terus belajar dan menemukan kemudahan," kata Zarif. "Memang benar. Salat adalah doa yang lebih mendalam dan saya merasakan perasaan memiliki (agama) yang begitu besar."

Sumber: Tribunnews
Tags
mualaf
  • Berita Populer

    Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved