Mereka Pergi Dalam Keadaan Bersyahadat

Sambil memulai perjalanan, kami sepakati bahwa masing-masing dari kami memegang mushaf Al-Quran, membacanya, dan berdoa sampai tempat

Mereka Pergi Dalam Keadaan Bersyahadat

SERAMBI UMMAH.COM - KISAHKU ini terjadi pada senja tanggal 27 Ramadhan 1431 atau bertepatan Agustus 2010. Kala itu kami semua bersepakat berangkat ke suatu tempat bersama dengan sebuah kendaraan.

Bersama kami, saat itu ada delapan orang. Ayahku, ibuku, abang-abangku dan kakak-kakak perempuanku.

Ayah bertindak sebagai sopir, ibu mendampinginya. Sambil memulai perjalanan, kami sepakati bahwa masing-masing dari kami memegang mushaf Al-Quran, membacanya, dan berdoa sampai tempat yang kami tuju. Kami ingin khatam Al-Quran pada hari tersebut.

Oh ya, kebetulan keluarga kami semua adalah keluarga penghafal Al-Quran, alhamdulillah.

Tilawah berlanjut dalam diam dan khusyu’, seakan tilawah itu merupakan tilawah terakhir bagi kami. Terlihat kakakku membaca sesekali derai bening mengaliri pipinya. Begitu juga kakak dan abang yang lain saling tatap, tangis dan doa yang saling tersulam dalam setiap ayat yang dibaca.

“Mengapa air mata itu deras mengaliri pipimu, Kak?” Sesekali aku bertanya, sembari ada rasa heran, mengapa suasanya menjadi beku meliputi kami.

“Suara Allah dekat saat aku membaca kalamNya,” begitu jawab kakakku lirih, sambil buru-buru beralih pada bacaan Al-Quran berikutnya.

Takdir Allah, rasa kantuk rupanya menguasai ayahku. Mobil kami melaju dengan kecepatan tinggi dan naik ke dataran lebih tinggi, kemudian jatuh ke jurang yang sangat dalam.

Mobil kami berbalik dan semua yang ada di dalamnya terpenral dari mobil, menggelinding dan jatuh. Tubuhku tersangkut sebuah ke pohon, saudara-saudaraku lainnya jatuh ke jurang yang entah berapa kedalamannya.

Lirih-lirih terdengar suara adzan Maghrib, dan kami semua dalam keadaan berpuasa ketika itu.

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved