Peneliti Ganteng Saudi Terima Penghargaan Keren

Hosam Zawawi. Inilah peneliti muda asal Arab Saudi yang menerima penghargaan presitisus,

Editor: Edinayanti
Arab News
Hosam Zawawi menerima penghargaan presitisus, Young Laureates Awards, dalam ajang Rolex Awards for Enterprise 2014. Dia dinilai sebagai sosok yang inspiratif. 

SERAMBIUMMAH.COM - Hosam Zawawi. Inilah peneliti muda asal Arab Saudi yang menerima penghargaan presitisus, Young Laureates Awards, dalam ajang Rolex Awards for Enterprise 2014.

Pemuda 30 tahun itu menjadi salah satu dari lima pemenang yang dipilih oleh 8 juri internasional yang ahli di bidang masing-masing sebagai sosok yang inspiratif. Ajang Rolex Award for Enterprise diikuti oleh 1.800 peserta dari 128 negara.

Selain berhak atas penghargaan Young Laureates Awards tahun ini, Zawawi juga membawa pulang uang senilai 50.000 franc Swiss atau sekitar Rp 633 juta, sebuah jam portabel (kronometer) merek Rolex, dan tentu saja: ketenaran.

Apa yang mebuat peneliti tampan ini menggondol penghargaan ini? Itu karena penelitiannya tentang penyalahgunaan antibiotik di dalam masyarakat Timur Tengah. Yang menjadi nilai plus tapi juga mencari solusi terbaik untuk mengatasinya.

Dalam penelitian disertasi sebagai syarat meraih gelar Ph.D itu, Zawawi mengembangkan rapid test untuk mendeteksi adanya bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik –yang saat ini menjadi ancaman global bagi kesehatan manusia. Tidak hanya itu, dia juga berencana mengampanyekan kesadaran publik di wilayah Teluk terkait penyalahgunaan antibiotik dan bahayanya.

“Saya sudah menemukan bakteri kuat (superbug) yang kebal terhadap antibiotik dalam penelitian awal saya. Dan saya tertarik untuk menelitinya lebih dalam. Saya kini jadi tahu ada akibat yang buruk jika masalah tersebut tidak segera ditanggulangi,” kata Zawawi dikutip Dream dari Arab News, Kamis 20 November 2014.

“Saya kemudian dilatih sebagai ahli pengendali infeksi di mana saya bisa berhubungan langsung dengan pasien yang memiliki kasus infeksi yang disebabkan oleh antibiotik,” tambah dia.

Dari hasil penelitiannya, Zawawi menemukan bahwa superbug telah menyebar di sejumlah negara Timur Tengah, seperti Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman dan Qatar.

“Di wilayah Teluk, antibiotik dijual bebas tanpa resep. Masalahnya orang-orang di sini tidak memiliki kesadaran dan pengetahuan bahwa itu sangat membahayakan kesehatan mereka,” kata dia.

Menurut Zawawi, antibiotik berpotensi merusak bakteria, termasuk yang melindungi tubuh dari masalah kesehatan yang ditimbulkan obat-obatan dan penyakit. Jadi, antibiotik bisa saja menjadi sumber kerusakan dalam tubuh.

“Saat ini saya fokus untuk meneliti superbug tersebut. Saya akan memperluas proyek ini dan berharap ada dukungan dari pemerintah negara-negara Teluk lainnya. Kemudian, saya ingin masyarakat umum bisa mengerti bagaimana sebenarnya cara kerja antibiotik itu dan tidak menyalahgunakan obat ini,” tutur Zawawi.

Zawawi ingin proyek yang dia kerjakan ini bisa melibatkan publik. Dia percaya komunikasi tentang isu-isu ilmiah bisa mengubah kesadaran kesehatan di wilayah Teluk sehingga memilih pendekatan berbasis masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang kekebalan antibiotik.

Untuk itu Zawawi sering menggelar kompetisi untuk menguji pengetahuan masyarakat soal kekebalan antibiotik dengan iming-iming iPads sebagai hadiah. Dia juga melakukan kampanye tentang kesadaran penyalahgunaan antibiotik dalam acara-acara olahraga, seperti permainan polo yang menjadi favoritnya. Zawawi bahkan membentuk tim polo dengan nama The Superbugs Slayers.

Dia mendaftarkan penelitiannya itu ke Rolex Awards setelah terinspirasi oleh Mark Kendall, seorang profesor Australia yang lebih dahulu meneliti soal antibiotik. Dan keluarga pun bahagia dengan capaian Zawawi ini.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Tags
arab saudi
  • Berita Populer

    Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved