Breaking News:

Keluarga yang Rajin Mencatat Keuangan: Istimewakah?

Komentar teman–teman sangat beragam ketika tahu kami mengumpulkan karcis tol, struk belanja dan kwitansi serta mencatatnya setiap hari

Editor: Halmien
Keluarga yang Rajin Mencatat Keuangan: Istimewakah?

SERAMBI UMMAH.COM - MENCATAT hal – hal rutin pemasukan dan pengeluaran keuangan sepertinya sangat menyebalkan apalagi mengumpulkan struk – struk belanja yang terkadang cepat buram tintanya. Komentar teman – teman sangat beragam ketika tahu kami mengumpulkan karcis tol, struk belanja dan kwitansi serta mencatatnya setiap hari.

“Eh, lihat tu Ci Ani, itu karcis tol juga disimpan, buat apaan?” komentar seorang teman.

Dalam folder khusus, karcis dan kawan – kawannya bertengger dan dipisahkan perbulan. Begitu selama 14 tahun folder–folder itu bertumpuk dari waktu ke waktu, tersimpan rapi dalam kardus – kardus yang ditulis: FAMILY FINANCE. Hanya folder – folder 3 tahun terakhir saja yang disimpan di dekat meja kerja di rumah supaya dapat mudah diakses jika diperlukan.

“Ck…ck…ck… mau diapakan karcis–karcis dan kwitansi ini?” tanya seorang kawan.

Satu demi satu pertanyaan dijawab tapi tidak tahu apakah penanya mendapatkan ide dan motivasinya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan…..” (Al-Baqarah: 282, Terjemahan Depag RI)

Urusan catat-mencatat sangat dianjurkan seperti yang tertera di dalam Surat Al-Baqarah Ayat 282. Ayat yang terpanjang di dalam surat urutan ke-2 dalam Al-Qur’an ini memiliki makna penting. Intinya lebih menekankan kepada orang yang berhutang seperti yang dijelaskan di dalam Tafsir Depag RI, yaitu Allah memerintahkan orang – orang yang beriman agar melaksanakan ketentuan – ketentuan Allah setiap melakukan perjanjian yang tidak tunai, yaitu dengan melengkapi alat – alat bukti (yang tertulis dan/atau adanya saksi).

Ini dapat dijadikan dasar untuk menyelesaikan perselisihan yang mungkin timbul di kemudian hari. Namun jika kita pahami lagi ayat ini, sesungguhnya mengingatkan kita juga akan pentingnya pencatatan karena ada manfaat lain juga dan perselisihan itu bukan hanya karena yang selalu sifatnya hutang. Tetapi juga perselisihan yang seperti kita sering jumpai dalam keluarga adalah perselisihan antara suami dan istri, contohnya suami mempertanyakan istrinya kenapa uang belanja begitu cepat habis, ke mana saja uang gaji dibelanjakan, berapa yang diberikan ke orangtua atau saudara sang istri dan sebagainya.

Dari sisi pengelolaan keuangan keluarga Muslim, pencatatan dan penyimpanan bukti belanja seperti yang dibahas di atas berfungsi untuk:

Mencocokkan dengan pendapatan dan pengeluaran yang direncanakan dan dapat dipergunakan sebagai bahan diskusi antara suami dan istri beserta anggota keluarga;

Halaman
12
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved