Breaking News:

Identitas Keuangan Islami Tengah Dibajak

Seiring berkembangnya keuangan syariah di tingkat korporasi dan ritel, sejumlah pertanyaan kini muncul. Industri syariah dituding mulai

Editor: Edinayanti
net
ilustrasi 

SERAMBIUMMAH.COM  - Seiring berkembangnya keuangan syariah di tingkat korporasi dan ritel, sejumlah pertanyaan kini muncul. Industri syariah dituding mulai meninggalkan nilai-nilai yang dimilikinya.

"Industri dimana saya bekerja dan terikat di dalamnya, serta tergerak untuk melakukan hal baik bagi masyarakat dan perubahan sosial, dalam beberapa hal telah dibajak," kata Managing Director dari European Islamic Investment Bank, Harris Irfan.

Menurut Harris, sistem keuangan Islami kini tengah berjuang hebat untuk membuat perbedaan baik dalam hal produk maupun budayanya.

Keluhan penulis buku Heaven's Bankers ini didukung Profesor Habib Ahmed dari Universitas Durham. "Ada perbedaan antara teori keuangan Islami dan praktik di lapangan," katanya seperti dikutip Thenational.ae.

Menurut Habib, keuangan Islami berdasarkan teori adalah menganut sistem syariah. Namun ketika melihat realitas di lapangan, muncul dugaan jika bank Islam tak lebih dari bank konvensional dengan tujuan membuat untung.

Larangan penerapa riba atau bunga diluar aktivitas ekonomi, telah membentengi bank syariah dari pendapatan yang dikenakan dari pinjaman dan deposito.

Sistem syariah juga melarang praktik Gharar atau spekulasi dan judi serta mewajibkan setiap transaksi berdasarkan pada nilai barang atau jasa.

Prinsip-prinsip inilah yang banyak diterapkan bank-bank konvensional.

Chairman dari organisasi Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial Institutions (AAOIFI), yang berbasis di Bahrain mengungkapkan sekitar 85 persen surat utang syariah atau sukuk yang diterbitkan tak sesuai dengan prinsip syariah.

Salah satu aporan dari Islamic Sharian Research Academy menemukan, dari 560 sample sukuk, hanya sekitar 11 yang melibatkan proses transfer dari aset yang dikeluarkan perusahaan dalam neraca keuangan dan pemegang sukuk.

"Jika ada melihat pada eksperimen awal keuangan Islami, banyak yang lebih menekankan pada eksperimen sosial sebagai penelitian ekonomi," kata Harris.

Meski banyak produk sukuk mendapatkan label syariah, Harris mengatakan justru banyak produk yang lebih mirip surat utang konvensional. (drc)

Berita Populer
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved