Breaking News:

4 Orang Anak dan 1 Pohon

Tiba-tiba aku teringat sebuah kisah yang kubaca sekilas saat duduk di sebuah halte, kala berada di kota Krakow, Poland.

Editor: Halmien
4 Orang Anak dan 1 Pohon

SERAMBI UMMAH.COM - BERHAMBURAN poin-poin rencana kita, namun tak jarang hal tak terduga dan kejadian mengejutkan hadir setiap saat. Itulah pengingat jiwa dan ujian atas hati nan ikhlas dalam menerima segala takdirNya.

Tiba-tiba aku teringat sebuah kisah yang kubaca sekilas saat duduk di sebuah halte, kala berada di kota Krakow, Poland. Sebuah kisah menginspirasi yang dituliskan oleh seorang brother dengan beberapa kalimat pendek saja. Aku terkesima. “Ada seorang pria yang memiliki empat anak. Dia ingin anak-anaknya belajar untuk tidak menilai sesuatu terlalu cepat. Mereka tinggal di negeri yang memiliki empat musim.”
Jadi dia mengirim keempat anaknya untuk merantau sementara, masing-masing bergantian pergi dengan lokasi yang tak terlalu berjauhan. Lalu pada giliran setiap anak, mereka harus berperjalanan hingga melihat sebuah pohon fir yang besar, area pohon ini lumayan jauh.

Putra pertama pergi saat musim dingin, yang kedua berangkat pula di musim semi, yang ketiga di musim panas, dan anak bungsu menyusul perantauan di musim gugur.

Ketika mereka semua pergi dan telah berkumpul kembali, sang ayah memanggil mereka bersama untuk menggambarkan apa saja yang mereka lihat. Anak pertama mengatakan bahwa pohon itu jelek, membungkuk, dan memutar, ‘bentuknya aneh, tidak indah.’

Putra kedua berujar, “Oh, tidak mungkin! Pohonnya yang jelek malah tidak ada, saya lihat ada batang dengan tunas hijau, bagus, dan penuh dengan ‘janji’, ada bunga di sekitarnya yang hampir merekah.”

Anak ketiga tidak setuju, dia bilang bahwa pohon itu sarat dengan bunga yang harum, begitu manis dan tampak begitu indah,”Sungguh itu adalah hal yang anggun, ada bunga tercantik yang baru pertama kalinya kulihat,” yakin ia berkata.

Anak terakhir tidak setuju dengan mereka semua, dia bilang “Kok begitu? Pohonnya itu ‘terlalu matang’ dan terkulai karena penuh dengan buah, penuh dengan daun yang berubah warna, dan beberapa saat lagi, pasti akan gundul. Bahkan tanaman di sekitarnya terlihat sangat kering kecoklatan…” Subhanalloh!

Pria itu kemudian menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa mereka baik-baik saja,pandangan mereka adalah hal yang tampak di saat itu. “Kalian masing-masing melihat dengan bagus, setiap seorang memandang dengan hanya satu musim, dan bahwa esensinya adalah dari pemahaman tentang siapa mereka, bahwa kesenangan, kegembiraan, terjauh dari gundah dan cinta berasal dari Yang Maha Memberi kehidupan, kita lihat bagian akhir, ketika semua musim mencapai puncak hari. Pengetahuan kita sedikit, amat terbatas, kalau sudah menjalani ‘seluruh musim’ pun, banyak hal yang luput dari ingatan kita.”

Begitulah sobatku, jika kamu menyerah ketika beku, ‘stuck’, merasa buntu, semisal saat itu musim dingin, tentu kamu akan kehilangan keindahan musim semi. Selanjutnya keindahan musim panas, dan tiada kenangan unik di hari tua. Jangan biarkan rasa sakit di satu musim menghancurkan sukacita di semua sisa harimu. Jangan menilai hidup dengan satu musim gara-gara menemukan perkara dan cabaran yang sulit. Bertahanlah! Ingat, melalui jalan terjal, masalah tersulit tetap dapat selesai atas izin dan nikmat karuniaNya. Wallohi, sesuai janji-Nya, waktu yang lebih baik di momen hidupmu pasti akan datang, sedetik lagi, esok atau lusa… Atau sesungguhnya hadir masa terindah di saat ini, tapi kita belum menyadari hikmah di balik peristiwa yang kita hadapi.

Wasta’inu bi sobri wa sholah…“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. Al Baqarah: 45), Allah Azza Wa Jalla telah melimpahkan resep ketegaran kita dalam melalui fase-fase kehidupan, ‘Jaga sholat (jaga hubungan terindah denganNya)’, maka pil sabar selalu menetap kokoh dalam jiwa, insya Allah. Bagaimana musim-mu saat ini, duhai sobat? Bahan bakar naik, biaya kuliah dan transport melangit? Adanya pengurangan karyawan guna pemangkasan cost produksi lagi ? Dan bagaimana kondisi iman di dada dalam menghadapinya?

Subhanallah, berbahagialah dengan proses pendewasaan diri ini, semoga musim semi hadir dengan keindahan yang sama dalam hati kita, ruang-ruangnya diisi dengan pujian kepada Allah SWT, tak ada tempat untuk keluh kesah yang menghabiskan energi. Kita muslim, peristiwa apa pun pasti berhikmah, kesenangan kita adalah syukur padaNya, hadir kesedihan pun beriring puji syukur padaNya, sebab nikmat sabar tetap dapat kita kecap hari ini. (ipc)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved