Pemimpin Agama Dunia Melawan Perbudakan

Andrew Forrest, salah seorang aktivis Walk Free Foundation yang mendanai kegiatan ini

Pemimpin Agama Dunia Melawan Perbudakan
serambiummah.com/net
Pemimpin agama dunia

SERAMBIUMMAH.COM - Pertama kalinya dalam sejarah, para pemimpin agama terbesar di dunia bergandengan bersama. Tujuan mereka sama: mengakhiri perbudakan. Berkumpul di kota Roma, Italia, pada April silam, belakangan mereka menggaungkan inisiatif Global Freedom Network, sebuah jaringan pertama di dunia yang menyatukan agama-agama besar dalam satu misi untuk memberantas perbudakan global.

Andrew Forrest, salah seorang aktivis Walk Free Foundation yang mendanai kegiatan ini, mengatakan isu perbudakan yang merajalela di dunia bisa menjadi kendaraan untuk mweujudkan perdamaian dan kerja sama antar-agama. Saat ini, eksploitasi fisik, ekonomi dan seksual terhadap pria, wanita, dan anak-anak telah menjebak lebih dari 35 juta orang di seluruh dunia dalam perbudakan.

Tokoh agama dunia yang menyepakati gerakan ini di antaranya Paus Francis mewakili Katolik, Ecumenical Patriarch Bartholomew mewakili Ortodoks, Justin Welby mewakili Archbishop of Canterbury, Rabi Abraham Skorka dan David Rosen mewakili Yahudi, Mata Amritanandamayi (Amma) mewakili Hindu, Zen Master Thích Nh?t H?nh dan Datuk K Sri Dhammaratana mewakili umat Buddha; Syekh Al-Azhar Mohamed Ahmed El-Tayeb, Syekh Omar Abboud, Ayatullah Mohammad Taqi Al-Modarresi, dan Ayatullah Syekh Basheer Hussain Al-Najafi mewakili umat muslim.

Melalui pertemuan ini pula, Forrest membawa pemimpin dua kelompok besar Islam, Syiah dan Suni, untuk bersatu padu. “Salah satu hari terindah saya ketika Imam Besar Al-Azhar menerima dan menyambut kehadiran seorang ayatullah Syiah dalam acara yang sama, sehingga dua keyakinan suni dan Syiah tidak hanya dilihat oleh dunia untuk melawan perbudakan tapi juga bekerja sama dalam isu global yang lebih besar,” ungkapnya.

Para pemimpin agama tersebut sepakat menandatangani deklarasi berikut:

Kamiberkumpul pada hari ini dalam sebuah inisiatif sejarah untuk membangkitkan aksi spiritual dan tindak nyata oleh seluruh agama di dunia dan orang-orang yang berkeinginan baik di manapun mereka berada untuk memberantas perbudakan modern di seluruh dunia pada tahun 2020 dan selamanya.

Di mata Tuhan, setiap orang adalah manusia yang merdeka, baik anak-anak, wanita maupun pria, dan ditakdirkan untuk ada demi kebaikan seluruhnya dalam kesetaraan dan persaudaraan.

Perbudakaan modern, dalam bentuk perdagangan manusia, kerja paksa dan prostitusi, perdagangan organ tubuh, dan segala bentuk pelecehan terhadap keyakinan mendasar bahwa semua orang adalah setara dan memiliki kemerdekaan dan kehormatan yang sama, merupakan sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kami bertekad pada diri sendiri, di sini, hari ini, untuk sekuat tenaga, baik dalam komunitas agama sendiri maupun lebih dari itu, untuk bekerja sama demi kebebasan semua orang yang diperbudak dan diperdagangkan sehingga masa depan mereka dapat dikembalikan.

Hari ini, kita memiliki kesempatan, kesadaran, kebijaksanaan, inovasi dan teknologi untuk meraih perintah kemanusiaan dan moral ini. (ISINDO)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved