Breaking News:

Hukum Memakai Celana Pensil Bagi Muslimah

Apakah busana muslimah dengan menggunakan bawahan celana legging

Editor: Didik Trio
Hukum Memakai Celana Pensil Bagi Muslimah
serambiummah.com/net
Ilustrasi

SERAMBIUMMAH.COM - Seiring dengan perkembangan zaman, cara berpakaian seseorang juga mengikuti trend, mode dan booming pakaian yang sedang berkembang. Apalagi di kalangan kaum perempuan trend dan mode pakaian seolah-olah menjadi pandangan hidup cara berpakaian masa kini. Busana-busana muslimah pun akhirnya mengikuti perkembangan trend dan mode kekinian, seperti busana muslimah dengan mode bawahan berupa celana pensil (celana dengan kain levis dan ketat/body pressed) dengan paduan baju kurung dan berjilbab, atau bawahan celana legging (celana dengan kain kaos dan ketat/body pressed) dengan dipadukan atasan berupa baju kurung dan berjilbab.

Apakah busana muslimah dengan menggunakan bawahan celana legging (celana dengan kain kaos dan ketat/body pressed) dipadukan dengan baju kurung dan jilbab tersebut sudah memenuhi standart syar’i?

Adapun perihal memakai pakaian ketat yang menutup aurat dan warna kulit, maka hal ini sesuatu yang makruh. Sebagaimana dinyatakan ar-Rauyani kitab al-Bahr. Demikian pula dinyatakan oleh Syekh Syamsuddin ar-Ramli dalam kitab Nihayah al-Muhtaj, ia berkata: “Perempuan tidak boleh menampakan [bagain badannya], kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Penutup aurat disyaratkan mencegah warna kulit, sekalipun sempit [ketat], hanya saja hal itu makruh bagi perempuan, dan perbuatan yang menyalahi keutamaan bagi kaum laki-laki”.

Pernyataan serupa juga ditulis oleh Syekh Zakariyya al-Anshari dalam kitab Syarah Raudl at-Thalib. Juga oleh Syekh al-Bakri ad-Dimyathi dalam I’anah at-Thalibin dan ulama besar lainnya dari ulama madzhab as-Syafi’i.

Di antara ulama madzhab Maliki yang menyatakan makruh memakai pakaian pakaian ketat bagi perempuan adalah; as-Syaikh Muhammad ‘Illaisy dalam Minah al-Jalil Syarh Mukhtashar al-Khalil. Al-Baji al-Maliki dalam Syarh al-Muwathamenyatakan hal serupa.

Di antara ulama madzhab Hanbali yang menyatakan makruh masalah ini ialah Syekh al-Buhuti al-Hanbali dalam kitabnya Kasyaf al-Qina. Di antara yang dikutip beliau sebagai dalil dalam masalah ini adalah sebuah hadits Rasulullah. Bahwa suatu ketika Rasulullah menghadiahkan pakaian [semacam pakaian al-Qibthiyyah] kepada Usamah ibn Zaid. Kemudian Usamah memakaikan pakaian tersebut kepada isterinya. Ketika Rasulullah bertanya: “Kenapa engkau tidak memakai pakaian al-Qibthiyyah?. Usamah menjawab: “Aku memakaikannya kepada isteriku wahai Rasulullah!. Rasulullah bersabda: “Suruhlah ia untuk mengenakan pakain dasar [ghilalah], aku khawatir pakaian [al-Qibthiyyah] tersebut membentuk tubuhnya”. Dalam pada ini Rasulullah tidak mengharamkan pakain ketat tersebut.

Namun hukum memakai celana ketat bagi wanita pada zaman sekarang adalah haram, apabila celana ketat tersebut dipakai didepan orang yang haram melihatnya yaitu selain suami dan mahramnya. Karena akan menimbulkan fitnah bagi yang melihatnya.

Jadi perkataan para ulama' diatas yang menghukumi makruh dimaknai jika pakaian ketat tersebut dipakai ketika shalat atau diluar shalat itupun dilakukan didalam rumah, atau sedang bersama mahramnya atau dalam kondisi yang aman dari fitnah godaan. Sementara pakaian ketat yang biasa dipakai para wanita sekarang diluar rumah tidak pernah terjadi pada zaman ulama' dahulu. Karena hukum asal perempuan adalah tidak boleh keluar kecuali ada hajat. Mana mungkin wanita yang tidak diperkenankan keluar rumah tanpa hajat bisa diperkenankan keluar rumah dengan pakaian ketatyang jelas mengundang godaan ?

Jadi dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: pertama, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan kedua, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian (maksudnya jarak yang sangat jauh).” (Shahih Muslim, no. 2128).

Halaman
1234
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved