Breaking News:

Carissa D Lamkahouan: Menggunakan Jilbab Saya Bermartabat

Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik dalam persoalan-persoalan yang terkait dengan perempuan.

Editor: Didik Trio
Carissa D Lamkahouan: Menggunakan Jilbab Saya Bermartabat
serambiummah.com/net
Carissa D. Lamkahouan

SERAMBIUMMAH.COM - SAYA telah mengenakan jilbab sebelum masuk Islam. Selama hampir satu setengah tahun sebelum saya menerima Islam sebagai agama saya, saya telah mempelajari agama dan belajar tentang prinsip-prinsip dan karakteristiknya.

Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik dalam persoalan-persoalan yang terkait dengan perempuan. Tapi saya melihat jilbab menjadi simbol yang sangat terlihat melekat pada perempuan. Saya pun menjadi tertarik mengetahui tujuan wanita berhijab dan menjadi terpesona dengan wanita yang mengenakannya.

Pada saat studi saya tentang Islam terus berlanjut, saya semakin aktif ke toko buku dan membaca dengan teliti tentang Islam. Terdapat terjemahan Al Quran dalam bahasa Inggris berjajar di rak bersama dengan koleksi hadist dan cerita Nabi Muhammad (SAW) dan para sahabatnya. Tapi pada saat melahap semua bacaan dan ceramah tentang Islam, saya juga tertarik ke bagian lain dari toko buku yang terdapat barisan abaya dan tumpukan jilbab. Dari sini kemudian saya menemukan keberanian untuk mencoba dan membeli jilbab pertama saya.

Saat Mengenakan Jilbab

Saat teringat ketika pertama kalinya mengenakannya. Jilbab rupanya hanya satu lembar potongan sederhana. Tidak ada kesulitan apa pun ketika saya mulai mencobanya.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi ketika saya telah mengenakannya. Tiba-tiba saya segera melepaskannya kembali jilbab hijau itu dari kepala saya. Saat saya melihat sekilas diri saya di cermin, saya jadi terkejut. Ini mungkin karena saya agak terlalu cepat mencoba mengenakannya. Selain melihat diri saya tampak sama sekali berbeda dan asing, segera tergambarkan stereotip negatif tentang wanita berjilbab yang begitu sering digambarkan di media. Ini memicu respon drastis dan ngeri di kepala saya.

Namun, kemudian saya segera pulih dari kondisi ini dan saya merasionalisasi diri saya bahwa saya membeli jilbab hanya digunakan bilamana saya memerlukan mengunjungi masjid untuk studi. Kalau saya melihat lagi ke belakang, rasa ngeri saya mengenakan jilbab tersebut rupanya sebagai langkah kecil menuju penerimaan terhadap jilbab, termasuk apa maknanya dan apa manfaatnya dalam hidup saya. Saya tidak menyadarinya pada waktu itu.

Beberapa bulan berlalu, saya sebenarnya masih belum berkesempatan lagi untuk mengenakan jilbab baru saya. Hanya saja telah membangkitkan keingintahuan saya tentang jilbab, dan saya akan mencobanya pada kesempatan berikutnya. Sementara itu studi saya terus berlanjut dan merasa senang dengannya. Untuk memudahkan transisi, saya memutuskan kembali ke toko buku untuk membeli sesuatu yang lebih menarik bagi selera saya.

Setelah saya menemukan beberapa gaya sederhana yang saya suka, saya diam-diam mulai memakai jilbab keluar di sekitar kota. Biasanya untuk ke toko makanan halal dan ke tempat-tempat lain yang saya tidak menginginkan semua mata tertuju pada saya. Hanya saja saya tidak menggunakannya pada saat keluar untuk makan malam bersama suami. Justru pada saat itu saya jadi merasa nyaman jika saja saya menutupi rambut dan menggunakan jilbab.

Saya percaya, itu merupakan uji coba awal dalam menggunakan jilbab dan perlahan-lahan menjadi terbiasa dengan tampilan baru saya untuk mengenakan jilbab sepenuh waktu, terlebih setelah saya membuat keputusan untuk masuk Islam. Segera setelah mengucapkan syahadat, saya mandi, menutupi kepala saya, dan mulai berdoa. Alhamdullah!

Halaman
12
Tags
Jilbab
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved