Breaking News:

Meminimalisir Musibah

Tidak cukup demikian, karena terima kasih dan syukur, adalah puji-pujian di lidah kepada sang pemberi

Editor: Didik Trio
Meminimalisir Musibah
serambiummah.com/net
Ilustrasi syukur

SERAMBIUMMAH.COM - BANYAK orang mengira berterima kasih kepada manusia cukup dengan mengatakan terima kasih, dan bersyukur kepada Allah SWT cukup dengan mengatakan Alhamdulillah lewat lidah.

Tidak cukup demikian, karena terima kasih dan syukur, adalah puji-pujian di lidah kepada sang pemberi; plus pengakuan di hati akan anugerah si pemberi, dan penggunaan anugerah itu  lewat anggota untuk hal-hal yang dikehendaki oleh pemberi. (Syekh Afif Abdul Fattah Thobbarah, Ruh ad-Din Al-Islaami, hal 193).

Bila lidah berterima kasih dan bersyukur, muncullah puji-pujian.

Bila hati berterima kasih dan bersyukur, muncullah pengakuan akan kebaikan pemberi. Hati yang berterima kasih dan bersyukur tidak mempersoalkan apa yang dianugerahkan oleh pemberi, apakah sedikit apalagi banyak, ia terima dengan lapang dada sehingga tidak pernah adanya keluhan akan nikmat yang dianugerahkan.

Kadang-kadang seseorang dengan mulutnya mengucapkan ucapan terima kasih dan syukur, tetapi hatinya tetap menggerutu. Seperti halnya seorang remaja yang diberi uang oleh pamannya lima ribu rupiah, ia berkata “terima kasih paman,” tetapi hatinya berkata, “paman ini, kok hanya lima ribu memberi, padahal ia banyak punya uang.”

Kepada Tuhan, bisa jadi seseorang mengucapkan alhamdulillah, tetapi hatinya menggerutu, “kok Tuhan hanya memberi segini.”

Orang yang bersyukur tidak demikian, bahkan musibahpun bisa jadi ia anggap nikmat.

Seorang sufi berjalan di sebuah jalan dan kakinya terkena batu besar sehingga luka parah di kakinya, darah mengucur begitu banyak. Iapun pulang ke rumah. Luka itu dibersihkan oleh sang istri, diobati dan dibalut dengan rapi. Sang istri keheranan seraya berkata, “Wahai kakanda, begitu dalam luka yang kanda derita, tetapi tidak kelihatan merasa sakit apalagi mengeluh?

Sang sufi berkata, “Apa yang harus saya keluhkan? Malah dengan luka ini aku harus bersyukur, karena kekasihku mau menegur aku.” Seorang yang menerima musibah, tetap dia anggap nikmat karena musibah itu datang dari Yang Maha Mencintainya.

Seperti seorang remaja yang dicubit oleh kekasihnya, ia sama sekali tidak merasa sakit bahkan cubitan itu dirasakannya nikmat; kadang-kadang ia sendiri yang minta dicubit. Karenanya, bagi orang yang bersyukur tidak ada standar bala dan musibah baginya, segala sesuatunya dipandang nikmat belaka, kendati bukan berarti ia harus mencari bencana.

Orang yang bersyukur dapat meringankan musibah yang menimpanya, meminimalisir bencana yang menimpanya dengan membanding banyaknya nikmat yang pernah diterima.Ada cerita masa lalu sewaktu penulis studi di PP Rakha Amuntai, Hulu Sungai Utara (HSU).

Kabupaten ini memiliki kesebelasan sepak bola yang diberi nama Candi Agung. Kesebelasan ini berlaga tandang ke Kalua dan menerima kekalahan telak enam kosong.Usai permainan sebelum kepulangan, dikirimlah kurir ke Amuntai menginformasikan berita kekalahan setengah lusin ini.

Mendengar hal ini, diadakanlah penyambutan besar-besaranan di perbatasan antara Amuntai dan Kelua (HSU dan Tabalong), di daerah yang disebut Tabur; dibuatlah gapura yang disebut “Lawang Sakiping”; disiapkan pula “sinoman” dari Kota Raden, hadrah dari Haur Gading dan “kuda gipang” dari Panagkalaan. Lalu ada yang berkomentar, “kalah enam (setengah lusin) kok disambut semeriah ini, apa tidak mahuhulut (mengolok-olok). Panitia penyambutan menepis, kami kada mahuhulut (tidak mengolok-olok); bahkan inilah tanda syukur bagi kami, karena kesebelasan Candi Agung ini biasanya kalau main tandang, kekalahan mencapai dua belas atau selusin. Kali ini kekalahan cuma enam, berarti kami harus syukuri.”

Dalam menghadapi hidup dan kehidupan, banyaklah hal-hal yang pada lahiriyahnya nikmat (bencana) tetapi disitu terkandung nikmat (kebaikan). Allah SWT mengingatkan : “…wa ‘asa an takrahuu syai’an wahuwa khairullakum, wa asa’ an tuhibbuu syai’an wahuwa syarrullakum…”

“…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 216). (*)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved