Breaking News:

Bakti Kaum Salaf dan Ulama kepada Orangtua

Rasulullah saw berhenti dan menghampiri makam ibunya. Rasulullah saw menangis dan sungguh orang-orang yang disekitarnya

Editor: Didik Trio
Bakti Kaum Salaf dan Ulama kepada Orangtua
serambiummah.com/net
Ilustrasui

SERAMBIUMMAH.COM - Rasulullah saw begitu paham akan hormat sama ibundanya, padahal ibunya sendiri tidak memeluk islam, dalam suatu perjalanan, Rasulullah saw melewati makam ibunya, Aminah bin Wahb di bawa, perkampungan yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Dalam perjalanan tersebut, tepatnya saat Perang Hudaibiyyah, Rasulullah saw didampingi para sahabat dan tentara yang terdiri dari seribu penunggang kuda.

Rasulullah saw berhenti dan menghampiri makam ibunya. Rasulullah saw menangis dan sungguh orang-orang yang disekitarnya pun ikut menangis. Seraya terisak, beliau bersabda, “Aku telah memohon izin pada Tuhanku agar aku memohonkan ampunan untuknya, tetapi Dia tidak mengijinkan aku. Aku memohon izin untuk berziarah ke makan ibuku lalu Dia mengizinkan aku. Maka berziarah kuburlah, sebab kubur menyadarkan kalian pada akhirat (HR Muslim)

Abu Hurairah adalah sosok sahabat Nabi saw yang sangat mencintai ibunya. Abu Huraisah menuturkan ibuku adalah orang yang menyekutukan Allah (Musyrik). Aku menyerunya untuk masuk Islam, tetapi ia malah mencaci makai Rasulullah saw, dengan kata-kata yang amat aku benci. Sambil menangis menahan isak tangus, aku datang menghadap Rasulullah. Aku berkata kepadanya, “Wahai Rasul, aku mengajak ibuku untuk memeluk Islam, tetapi ia ingkar. Hari ini aku menyerunya kembali, tetapi ia malah memperdengarkan kata-kata buruk tentnag dirimu dan aku amat membencinya. Berdoalah agar Allah memberikan petunjuk kepada ibuku. Maka Rasulullah saw berdoa. “Ya Allah, berikanlah petujuk kepada ibunu Abu Hurairah.”

Aku berlalu dengan penuh sukacita lantaran doa Nabi. Ketika kembali ke rumah, aku mendapati pintu rumahku terkunci. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, ia berkata, diam di tempatmu, Abu Hurairah! Ibuku mandi, sesudah itu ia berikrar, “Asyahdu alla ilaha illallah wa asyahdu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan kau bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Sambil menangis bahagia, aku menghadap Rasulullah, “Bergembiralah wahai Rasulullah, karena Allah telah mengabulkan doamu dan Dia juga telah memberi petunjuk kepada ibunda Abu Hurairah! Rasulullah langsung memanjatkan pujuan bagi Allah dan mengucapkan kebaikn (HR Muslim)

Diantara akhlak mulia Abu Hurairah yang membawanya pada kedudukan yang mulia adalah bakti dan kesetiaannya kepada sang ibu. Ketika ia mendengar sabda Rasulullah saw, Bagi hamba yang beramal mendapat dua pahala.” Abu Hurairah berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ada pada kekuasann-Nya. Kalau tiada perintah jihad fisabillah, haji dan berbakti kepada orangtua, niscaya aku berharap mati sebagai seorang budak.

Pernah suatu ketika Rasulullah saw membagi kurma buat para sahabatnya, termasuk Abu Hurairah. Beliau membagi masing-masing dua buah kurma. Rasulullah saw bersabda, makanlah dua kurma dan minumlah. Karena kedua kurma itu cukup mengatasi rasa lapar kalian pada hari ini.

Abu Hurairah berkata, “Saya memakan satu kurma dan satunya saya simpan.” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Wahai Abu Hurairah, mengapa satunya kamu simpan? Abu Hurairah menjawab, “Saya menyimpannya untuk ibuku.” Beliau bersabda, “Makanlah, saya akan memberikan dua kurma untuk ibumu.” Maka beliau memberikan dua kurma lagi kepadaku.

Dari Abu Murrah ra sesungguhnya Abu Hurairah ra bila keluar dari rumahnya berdiri di dimuka pintu ibunya, lalu berkata, “Asslamualaikum, wahai Ibuku, warahmatullahi wabarakatuh, “Lalu si ibu berkata, “Semoga engkau diberi keselamatan oleh Allah, rahmat dan berkat Allah atasmu. Abu Hurairah berkata, “Semoga Allah merahmati engkau wahai ibu sebagaimana engkau mendidikku waktu kecil. Sang ibu berkata, “Semoga Allah memberi rahmat kepadamu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku sewaktu kamu besar (saat ini). Dan apabila hendak masuk rumah, Abu Hurairah berbuat demikian. (HR Bukhari dalam kitab al adabul mufrad)

Abu Abdurrahman al-Hanafi menuturkan,’Kahmas bin al-Hasan melihat seekor kalejengking di rumahnya. Ia bermaksud membunuh atau menyingkirkannya, tetapi ia kalah cepat dan binatang itu masuk ke dalam lubang. Kahmas memasukkan tangannya ke dalam lubang itu untuk memburu binatang tersebut dan tentunya tindakannya itu untuk memburu binatang dam tindakannya itu berbahaya. Seorang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau berbuat itu? Kahmas mejwab, “Aku khawatir binatang itu keluar dari persembunyiannya kemudian mendekati ibuku lalu mengigitnya.

Iyas al-Qadhi. Ketika ibunya meninggal, ia menangis. Seseorang bertanya, “Mengapa engkau menangis? Iyas menjawab, “Sebelumnya, ada dua pintu surga yang terbuka untukku dan sekarang, satu pintu telah tertutup.

Halaman
12
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved