Musibah di 2014, Saatnya Muhasabah

peristiwa di tahun lalu membuka kembali kepiluan kita, bencana yang terjadi di negeri ini tak henti-hentinya menghampiri negeri yang kaya

Musibah di 2014, Saatnya Muhasabah

SERAMBI UMMAH.COM - TAHUN 2014 telah berlalu, serangkaian peristiwa pun telah terjadi dan mewarnai catatan di tahun lalu. Baik dan buruk catatannya menjadi pelajaran bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan tetap berkiblat pada aturan dari Sang Maha Kuasa Allah Subhanahu Wa Ta’aala .

Serangkaian peristiwa di tahun lalu membuka kembali kepiluan kita, bencana yang terjadi di negeri ini tak henti-hentinya menghampiri negeri yang kaya akan sumber daya alam ini. Bencana memang menjadi ancaman yang nyata bagi kita. Data sementara bencana yang terjadi di Indonesia pada tahun 2014 Sebanyak 1.525 kejadian bencana sudah menyebabkan 566 orang tewas, 2,66 juta jiwa mengungsi, lebih dari 51 ribu rumah rusak dan ratusan bangunan umum rusak. (metrotvnews.com, 31/12/2014)

Bencana terjadi tentu saja menghasilkan dampak kerugian yang tidak sedikit, sebut saja kerugian ekonomi mencapai puluhan triliun rupiah seperti dampak kebakaran hutan dan lahan yang mencapai Rp 20 triliun, banjir Jakarta Rp 5 triliun, banjir di Pantura Jawa Rp 6 triliun, banjir bandang di Sulawesi Utara yang mencapai Rp 1,4 triliun, banjir dan longsor di 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah Rp2,1 triliun dan lain-lain.

Bencana yang terjadi 99 persen adalah bencana hidrometeorologi. Angin puting beliung adalah jenis bencana yang paling dominan selama tahun 2014, yaitu sebanyak 496 kejadian. Bencana ini sudah menyebabkan korban jiwa 57 orang, 10.707 jiwa mengungsi, dan lebih 23 ribu rumah rusak selama 2014.

Dan yang paling menyedot perhatian di penghujung tahun adalah tragedi si burung besi AirAsia QZ8501, begitu menambah kepiluan. Tangisan tak hentinya mengiringi negeri ini. Tapi dibalik bencana itu masih saja ada orang-orang yang bisa merayakan tahun baru dengan suka cita. Kemeriahannya mewarnai di setiap kota. Miliaran pundi-pundi dihabiskan untuk maraknya pesta kembang api, mercon dan sejenisnya. Malam pergantian tahun masehi yang dijadikan sesuatu hal yang penting bahkan menjadi tradisi kewajiban yang sayang jika dilewatkan.

Jika kita telaah, bagi negeri yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan ini, dengan diterapkannya sistem kapitalisme, liberalisme, sekulerisme yang memberi celah maksiat bertebaran dimana-mana. Bencana datang sejalan dengan maraknya kemaksiatan yang dibiarkan oleh penguasa, rendahnya ketakwaan individu, maka perlunya muhasabah bagi individu, keluarga, masyarakat dan negara.

Bisa jadi adanya bencana mekanisme ini jugalah yang dipakai Allah Subhanahu Wa Ta’aala untuk menyadarkan suatu negeri agar kembali kepada jalan yang benar yang diridhai Allah. Sebagaimana yang tertuang dalam Firman-Nya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Arruum : 41)

Aturan Sang Pencipta diabaikan bahkan manusia dengan sombong dan angkuh merasa aturan manusia lebih berhak untuk menghiasi dan mengatur kehidupan ini. Manusia mengesampingkan aturan Sang Pencipta, padahal sejatinya yang menciptakan kita adalah Allah Subhanahu Wa Ta’aala dan kita pun akan kembali padaNya. Lihatlah bencana-bencana tersebut datang tanpa permisi, jika Allah sudah berkehendak apapun akan terjadi. Seperti kematian yang datang tanpa menunggu kita siap.

Ketika bencana sudah menerjang kita tidak ada yang bisa kita lakukan selain meminta pertolonganNya. Sebuah bencana adalah murni rahasia Allah Subhanahu Wa Ta’aala. Kita sebagai manusia hanya dapat mengupayakan yang terbaik agar musibah itu dapat ditanggulangi.

Bagi umat muslim bencana ini adalah ujian, agar hambanya selalu bersyukur di dalam kondisi apapun serta pengingat diri untuk berbenah menjadi invidu yang setiap saat selalu lebih baik. Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan untuk bertobat sebelum ajal menjemput. Wallahu A’lam Bis-shawaab. (ipc)

Tags
Musibah
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved