Breaking News:

Tahun Pertama Adaptasi Pasangan yang Baru Menikah

Orang umum menganggapnya sebagai masa bulan madu, menandakan romatisme, kesan akan manisnya hari-hari yang akan dilalui

Editor: Halmien
Tahun Pertama Adaptasi Pasangan yang Baru Menikah

Menyadari jurang perbedaan ini, Toto memutuskan untuk pindah rumah ke kontrakan satu pintu dan segaja ia pilih di wilayah yang dekat dari rumah mertuanya meskipun di lingkungan lebih sederhana. Di kontrakan mungilnya Ani dapat sedikit-demi-sedikit menyesuaikan diri menjadi istri Toto dengan latar belakangnya yang sederhana. Ketika ia mulai hamil muda dan kembali agak manja, ia dapat kapan saja pergi bertandang ke rumah ibunya untuk sekedar menikmati AC dan jus stroberi maupun apel yang dibuat pelayan ibunya. Toto mengizinkan istrinya melakukan hal ini karena sadar istrinya perlu waktu untuk diajak hidup sederhana, terutama ketika sedang ’ngidam’ (hamil muda) yang sering kali lebih sensitif. Ketika saatnya pulang kampung ke desa, Ani sudah dapat bersabar dengan kipas angin dan bahkan kipas bambu, juga dengan wc jongkok di desa. Makan sederhana lesehan di kontrakan juga membuat ia tidak lagi canggung makan lesehan di bale bambu di teras rumah mertuanya.

Kunci keberhasilan adaptasi sosial ekonomi terletak pada tekad untuk sama-sama mementingkan agama dan akhlak. Jika orangtua Ani tidak mempunyai sikap yang sama, bisa jadi merekalah yang akan memanas-manasi Ani untuk tidak dapat bertenggang-rasa dengan keluarga suaminya maupun dengan ”kebiasaan kampung” suaminya seperti misalnya kebiasaan makan tanpa sendok garpu, maupun kebiasaan makan comot sana sini di meja makan. Ani sangat butuh dukungan keluarga untuk tetap mementingkan yang penting dan memaklumi yang kurang penting. Demikian juga Toto.

Kunci keberhasilan ini (mementingkan agama dan akhlak) juga dapat diterapkan pada perbedaan latar belakang budaya dan suku. Misalnya keluarga Kraton Solo menikah dengan orang Batak asli, dimana yang satu biasa berbicara sangat teratur dengan hirarki bahasa dan juga sering berbahasa tidak langsung, sedangkan satu lagi terbiasa blak-blakan (terang-terangan) dengan suara keras dan lepas. Bahkan biasanya yang berbudaya Jawa pertama kali seringkali terkejut karena volume suara yang bebas lepas ini.

Persoalannya kembali kepada tenggang rasa.

Kedua pihak pada gilirannya akan salaing menyesuaikan diri. Toto akan belajar bagaimana kebiasaan yang ”dapat diterima” dan ”kurang dapat diterima” di rumah mertuanya, sementara Ani belajar hal yang sama di rumah mertuanya namun dengan arah yang berbeda.

Demikian juga dengan perbedaan budaya dan suku, yang asli Jawa lama kelamaan akan belajar menerima suara keras dan gaya terus terang sementara yang Batak mulai belajar merendahkan volume sambil mempelajari apa makna-makna dalam bahasa sindiraan.

Toleransi kedua pihak, artinya kedua pihak perlu sama-sama mengendurkan saraf dan saling terbuka satu sama lain sambil memasang sikap siap beradaptasi menyesuaikan diri satu sama lain.

Toleransi ini sangat tepat untuk konteks seperti di atas, BUKAN, sekali lagi BUKAN untuk bertoleransi masalah perbedaan agama dan ideologi. (emc)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved