Breaking News:

Ingin Selamat dari Harta, Begini

Harta kita kelak akan menjadi pertanggung jawaban, apakah ia akan menolong jiwa kita ataupun sebaliknya

Editor: Halmien
Ingin Selamat dari Harta, Begini

SERAMBI UMMAH.COM - HARTA sebagai amanah bagi sebagian orang, harta juga menjadi sumber kesenangan dan perhiasan bagi mahluk Allah yang memiliki sifat berlebihan. Padahal pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatief, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya.

Harta kita kelak akan menjadi pertanggung jawaban, apakah ia akan menolong jiwa kita ataupun sebaliknya. Dalam pelaksanaan kita dibutuhkan untuk mengaturnya sesuai aturan kehidupan yang menyangkut keselamatan agama, keselamatan diri, keselamatan akal, keselamatan harta benda, maupun keselamatan nasib keturunan.

“Seseorang pada hari akhir pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dia pergunakan”

Adapun status harta yang dimiliki manusia adalah sebagai berikut:

1.Harta sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Manusia hanyalah sebagai amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada. Dalam bahasa Einstein, manusia tidak mampu menciptakan energi, yang mampu manusia lakukan adalah mengubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Pencipta awal segala adalah Allah SWT.

2.Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan. Manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk memiliki, menguasai, dan menikmati harta. Firman-Nya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-Lah tempat kembali yang baik (syurga),”(QS. Ali-Imran: 14). Sebagai perhiasan hidup, harta sering menyebabkan keangkuhan, kesombongan, serta kebanggaan diri (QS. Al-‘Alaq: 6-7)

3.Harta sebagai ujian keimanan. Hal ini terutama menyangkut soal cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran islam ataukah tidak (QS. Al-Anfaal: 28)

4.Harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan perintah-Nya dan melaksanakan muamalah di antara sesama manusia, melalui kegiatan zakat, infaq, dan sedekah (QS. At-Taubah: 41, 60 & Ali-Imran: 133-134)

Empat poin di atas mengingatkan kita bagaimana kita dapat mengatur harta yang Allah titipkan dapat kita pelihara dengan kesesuaian aturan yang Allah hendaki.

Kepemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui usaha (a’mal) atau mata pencaharian (ma’isyah) yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang mendorong umat islam bekerja mencari nafkah secara halal.
“Hai orang-orang beriman, nafkahkanlah di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…,”(QS. Al-Baqarah: 267)

Dalam sebuah hadits pun dikatakan, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja. Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah yang halal untuk keluarganya maka sama seperti mujahid di jalan Allah,”(HR. Ahmad)

Mencari nafkah pun ada larangannya, seperti, dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan kematian, melupakan dzikrullah (tidak ingat kepada Allah dengan segala ketenntuan-Nya), melupakan shalat dan zakat, dan memusatkan kekayaan hanya pada kelompok orang kaya saja.

Selain itu, dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba, perjudian, berjual beli barang yang dilarang atau haram, mencuri, merampok, penggasaban, curang dalam takaran dan timbangan, melalui cara-cara yang batill dan merugikan, dan melalui suap menyuap.

Itulah, aturan dan larangan harta yang dapat kita ambil pelajarannya sebagai tameng untuk menjaga dari kecelakaan diri, jikalau kita menolak dengan aturan maka akan melahirkan kekacauan dalam kehidupan sekarang serta kecelakaan di akhirat nanti, na’udzubillah. (ipc)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved