Ketika Hilang Kerinduan dan Kehangatan Seorang Isteri

Tidak hanya mikir enaknya saja, tapi lupa dengan pahitnya. Menikah tak mungkin tanpa ujian, baik ujian kenikmatan maupun ujian musibah

Ketika Hilang Kerinduan dan Kehangatan Seorang Isteri

Setiap nasihat berakhir dengan konflik. Istrinya mulai melarang Jundi mengaji, karena dianggap sebagai sumber perubahan suami. Kalau perlu kunci kendaraan pun disembunyikan agar tak bisa Jundi kajian rutin. Cacian dan hinaan sang istri telah menjadi santapan sehari-hari. Bahkan suara keras sang istri menjadikan tetangga tahu tentang permasalahan rumah tangga mereka. Peralatan dapur yang melayang keluar rumah pun menjadi hal yang sudah biasa dilihat tetangga. Memang, jika sang istri marah dan “ngamuk” hanya setan yang bisa mengendalikannya. Jundi tak bisa berbuat apa-apa. Dulu pernah karena saking marahnya, Jundi khilaf membentak istri dengan suara keras, tapi bukannya istrinya takut, malah sebuah tamparan mendarat di pipinya.

Jundi merasakan kegoncangan yang begitu hebat. Entah harus bagaimana ia menghadapi sang istri. Kelembutan dan kesabarannya selama ini seolah tak berbekas. Kehangatan seorang istri tak pernah lagi ia dapatkan. Semua terasa hambar dan beku. Kalau bukan karena demi anak-anak ingin rasanya Jundi menjatuhkan talaq. Toh, mencari pengganti istrinya pun bukan hal yang sulit. Banyak wanita sholihah di tempatnya biasa mengaji yang bisa Jundi pilih salah satunya. Namun ia pun masih mencintai istri, masih sangat berharap istrinya berubah. Jujur, dulu Jundi memilih sang istri karena kecantikannya, dan kini ia merasa benar-benar celaka. Entah sampai kapan…..

Didasarkan cerita di atas, pasti semua sepakat. Tak ada yang salah dengan Jundi. Ia manusia yang telah mendapat petunjuk dan bertobat. Wajar jika ingin menularkan hidayah itu kepada istri dan anak-anaknya. Dan itu kewajiban Jundi sebagai qowwam di rumah tangganya. Namun apa daya Jundi, ketika sang istri lebih memilih memperturutkan perasaan dan hawa nafsunya. Jundi telah kehilangan kerinduan dan kehangatan seorang istri. Kerinduan untuk bertemu ataupun sekedar bercengkerama tak ada lagi pada diri istrinya karena menganggap Jundi telah berubah penuh nasihat. Tak ada lagi kehangatan seorang istri untuk tulus mencintai dan berkhidmat pada suami. Jundi sedih, jangankan pada Jundi yang manusia biasa, pada Alloh Sang Pemilik Hidup pun istrinya tak taat. Jadi bagaimana mungkin ia bisa menjadi istri yang menaati suami.

Lain lagi dengan cerita seorang sahabat berikut ini.

Sity sedang bingung, dan ingin mencari solusi. Sebenarnya sahabat saya itu seorang istri sholihah. Selalu menaati dan khidmat pada suaminya. Seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya. Pernikahan selama lima belas tahun dengan seorang suami sholeh, telah menjadikannya wanita yang bahagia. Namun, ada satu hal yang selama beberapa tahun terakhir telah mengganjal hatinya. Pelan namun pasti terpikirkan. Lambat laun mulai terasa ketidaknyaman dan ketidakpuasannya. Ia mulai merasakan kehampaan dan kekosongan saat melakukan hubungan di balik tirai kamar. Pelayanan yang diberikan pada suami dianggap sebagai hal rutin, sekedar menggugurkan kewajiban. Kehidupan ranjang tak lagi menjadi suatu hal yang menyenangkan. Bahkan kadang ia lakukan dengan terpaksa demi baktinya pada suami. Padahal hatinya tersiksa, dan lebih tersiksa lagi ketika harus menipu diri sendiri dengan berpura-pura klimaks demi menyenangkan suami. Tak lagi ada rindu di hatinya untuk memadu cinta. Kehangatan pun hanya sekedar sandiwara. Mungkin suaminya tak pernah tahu. Anak-anak pun hanya tahu bahwa orangtuanya baik-baik saja. Tak ada yang tahu betapa hambar rasanya menjalani peran sebagai istri.

Banyak hal yang telah berubah, kecuali rutinitas sebagai suami istri. Beberapa tahun terakhir, ia anggap sang suami telah berbeda. Suami yang biasanya romantis, pandai mengolah kata-kata mesra, sekarang tak lagi seperti itu. Siti merasa tak lagi diperhatikan. Haknya sebagai istri untuk sekedar memperoleh kata-kata dan panggilan indah tak lagi ia dapatkan. Suami terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan dakwahnya. Bahkan komunikasi dari hati ke hati pun sulit diwujudkan. Setiap ucapan suami adalah perintah yang harus ditaati. Sedikitpun tak boleh berbeda meskipun hanya berupa masukan. Siti layaknya robot yang harus selalu menuruti tuannya. Cintanya pada sang suami perlahan layu. Kerinduan tak lagi dimilikinya. Ibarat bunga yang perlu siraman air setiap hari. Tapi setitik pun air itu tak menetesinya.

Entah kemana perginya kata-kata yang dulu selalu membuat hatinya berbunga. Rangkaian kalimat indah yang membuatnya serasa menjadi “princess”. Kata sayang…my hunny…my lovely wife…bidadariku….kekasih… telah hilang dari kamus pernikahannya. Entah menguap kemana. Ciuman tak terduga, kecupan kecil, kerlingan mesra, bisikan indah dan godaan nakal telah lama tak lagi ia peroleh dari suami. Kadang Siti sendiri bingung, siapa sebenarnya yang berubah, ia atau suaminya. Kadang juga ada prasangka menyeruak tiba-tiba, mungkin suaminya telah bosan dan tak lagi mencintainya.

Sebuah pernikahan yang awalnya karena semata ibadah mengikuti sunnah nabiNya, kini entah apa motivasi di baliknya. Semua terasa hampa dan monoton. Siti hanya bisa berdoa. Semoga pernikahannya dengan suami selamat dari gelombang kejenuhan. Semoga ia dan suami bisa sama-sama saling evaluasi diri. Mengembalikan semua hal pada Alloh SWT. Meluruskan kembali niat awal pernikahan mereka.

Dari kedua kasus di atas kita bisa mengambil ibroh bahwa setelah sekian lama pernikahan, rasa cinta pada pasangan yang awalnya teramat menggebu bisa saja pudar. Apalagi memang ada Harut Marut yang tugasnya memisahkan istri dari suaminya. Ada setan yang menggoda agar ketika dengan pasangan sah merasa biasa saja. Tapi dengan orang lain yang bukan suami atau istrinya pingin dekat dan cari perhatian. Ada setan yang mengganggu agar komunikasi dengan orang lain lebih mengasikkan daripada komunikasi dengan pasangan sendiri. Hingga tak heran, jika angka perselingkuhan di Indonesia makin tinggi.

Sebagai contoh, Jatim menempati peringkat pertama di Indonesia dengan 7.172 kasus. Peringkat kedua ditempati Jabar dengan 3.650 kasus dan ketiga Jateng dengan 2.503 kasus. Di Indonesia sendiri angka perselingkuhan mencapai 10.029 kasus (suarakawan.com, 28 Juni 2012).

Halaman
123
Berita Populer
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved