Ketika Hilang Kerinduan dan Kehangatan Seorang Isteri

Tidak hanya mikir enaknya saja, tapi lupa dengan pahitnya. Menikah tak mungkin tanpa ujian, baik ujian kenikmatan maupun ujian musibah

Ketika Hilang Kerinduan dan Kehangatan Seorang Isteri

Mungkin, perselingkuhan hanya berlaku bagi masyarakat awam. Keluarga pengemban dakwah kemungkinan besar tak disinggahi badai perselingkuhan. Sebab, perselingkuhan adalah hal terlarang. Pengemban dakwah rasanya tak mungkin memilih jalan hina ini. Paham, selingkuh adalah salah satu pintu mendekati perbuatan zina. Terpikirkan pun tidak.

Namun, sering singgah badai lain yang benar-benar harus hati-hati menyikapi. Sebuah badai yang akan membuktikan iman tak hanya sekedar lisan. Badai itu jika dianggap badai ia bernama “poligami”. Ada istri-istri yang menerima hukum poligami hanya jika bukan suaminya yang menikah lagi. Tapi ketika sang suami ingin matsna, istri meradang, marah, tak rela dan akhirnya melakukan perbuatan melanggar syara demi mencegah sang suami punya istri lagi. Bahkan bila ternyata sang suami telah menikah, dengan entengnya meminta suami menceraikan madunya. Tak ada lagi kehangatan seorang istri yang biasanya lembut. Lupa bahwa bukan hanya pernikahan pertama yang bertujuan ibadah, lalu menganggap pernikahan suami yang ke dua dan seterusnya adalah sebuah kedholiman hanya karena rasa sakit hati istri pertama. Ketaatan seorang istri pun hilang tertiup emosi. Lupa dengan sabda rosul,” perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai sholat lima waktu dan ketaatannya terhadap suami (HR. Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah).

Cemburu boleh saja, wajar dan sangat manusiawi. Cemburu tanda adanya cinta. Sulit memang mengelola cemburu. Tapi jangan sampai menghilangkan kehangatan terhadap suami. Melenyapkan kerinduan seorang istri. Memusnahkan kepercayaan pada suami. Apalagi menghilangkan ketaatan pada syariat Alloh. Dari Husain bin Muhshain dari bibinya berkata: “Saya datang menemui Rasulullah SAW. Beliau lalu bertanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” Saya menjawab: “Ya”. Rasulullah SAW bertanya kembali: “Apa yang kamu lakukan terhadapnya?” Saya menjawab: “Saya tidak begitu mempedulikannya, kecuali untuk hal-hal yang memang saya membutuhkannya” . Rasulullah SAW bersabda kembali: “Bagaimana kamu dapat berbuat seperti itu, sementara suami kamu itu adalah yang menentukan kamu masuk ke surga atau ke neraka” (HR. Imam Nasai, Hakim, Ahmad dengan Hadis Hasan)

Ketika hilang kerinduan dan kehangatan istri, seorang suami sebenarnya bisa melakukan introspeksi total. Mencari penyebab dibaliknya. Apakah karena istri yang memperturutkan perasaan dan hawa nafsu, ataukah justru sikap suami yang berubah dan membuat resah istri. Bisa jadi seorang suami telah melakukan pelanggaran syara, hingga mengganggu hati istri. Seorang suami yang baik tentu bisa ” membaca” sang istri meski hanya sekedar dari bahasa tubuh dan tatapan mata. Rasulullah pernah bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR. Tirmidzi).

Menikah adalah ibadah, maka sudah seharusnya suami istri berlomba mewujudkan samara dan saling membahagiakan. Saling menunjukkan kehangatan tanpa ada sekat pembatas. Saling rindu kala beberapa jam saja tak bertemu. Saling mendukung kala melangkah. Saling menginspirasi dalam kebaikan. Saling memotivasi untuk bermanfaat bagi orang lain. Saling menguatkan kala badai menerpa. Bukan sebaliknya, saling melemahkan, membenci, memudarkan semangat bahkan mencaci dan mengeluarkan kata-kata buruk. Bukankah hadits riwayat Bukhari menyebutkan untuk, “Berkata baik atau diam?”

Mewujudkan mawaddah warohmah adalah kewajiban bersama suami istri. Keduanya harus terlibat aktif. Tak bisa hanya salah satu, istri atau suami saja. Mungkin perlu direnungkan kata bijak berikut, ” bahwa untuk membentuk kebahagiaan rumah tangga perlu dua orang suami istri yang bersinergi dan bekerjasama, tapi untuk menghancurkannya satu orang saja cukup.” Wallohu’alam. (emc)

Berita Populer
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved