Breaking News:

Suami Suami Dekil

Pak Budi bersyukur tergolong orang yang bahagia. Selain isteri shalihat, Allah mengaruniainya dengan anak-anak yang taat

Editor: Halmien
Suami Suami Dekil

Suatu kali, Pak Budi diajak isteri menghadiri walimahan. Sang isteri minta Pak Budi berdandan. Pak Budi bingung sendiri. Mau pakai baju apa. Pakai batik, nanti mirip birokrat. Pakai jas, bisa dianggap borju. Selain itu, badan bisa terasa panas. Pakai kemeja kurang pas. Pasalnya, hampir-hampir tak pernah Pak Budi memasukkan bajunya kedalam celana panjangnya. Biasanya, sang baju dibiarkan menjuntai melambai-lambai.

Lama Pak Budi merenung di depan lemari. Sekumpulan baju yang nyaris tak pernah tersentuh, hanya bisa terpandang. Sesekali, ia melirik busana seragamnya. Kaos, dan celana katun. Tapi, ia yakin, isterinya pasti tak setuju. Masak ke pesta berbaju ala kadarnya. Jadilah Pak Budi terdiam dalam aneka pilihan.

Selain batik dan kemeja, Pak Budi juga alergi dengan minyak wangi. Terlalu naif buat Pak Budi berminyak wangi. Ia lebih memilih mandi berkali-kali ketimbang harus pakai minyak wangi. Ungkapan penolakan terhadap minyak wangi memang tak bisa tergambar jelas. “Pokoknya, gimana gitu,” ucap Pak Budi suatu kali ke teman dekatnya. “Sepertinya, kok genit amat pake minyak wangi segala. Cengeng,” tambah Pak Budi suatu kali.

Di sisi lain, penampilan Pak Budi kadang bisa menguntungkan. Terutama ketika naik kendaraan umum. Biasanya, copet mengincar mereka-mereka yang tampil necis. Dalam hal ini, Pak Budi diuntungkan. Jangankan mengincar, melirik ke Pak Budi saja, copet-copet sudah pesimis.

Akhirnya, sang isteri tak bisa tahan dalam diam. Suatu hari, isteri Pak Budi berbagi rasa. “Mas ganteng, deh. Apalagi kalau bajunya kemeja, pakai minyak wangi, dan bersisir rapi. Wah, seperti bintang film aja!” ucap sang isteri sambil bercanda. Yang diajak bicara cuma diam. Hanya senyumnya yang mengembang. “Repot, ah!” ucap Pak Budi ringan.

Kesadaran pun muncul ketika pasangan suami isteri itu dikaruniai Allah seorang puteri. Saat puteri Pak Budi pulang dari sekolah TK, Pak Budi mau berangkat keluar. Mereka saling berpapasan. “Lho, Ayah mau kemana?” tanya si anak. “Kerja!” jawab Pak Budi singkat. “Tapi, kok rambutnya masih acak-acakan,” komentar sang anak spontan. “Emangnya kenapa?” tanya sang ayah. “Malu, dong!” protes si kecil tajam. “Malu ama siapa?” tanya Pak Budi lagi. “Ya, sama Rasulullah! Nabi Muhammad itu selalu rapi. Tau!” bentak si kecil enteng.

Kontan saja, ucapan si kecil bikin Pak Budi mikir berkali-kali. Aih, benarkah? Suara hati Pak Budi bertanya dalam. Benarkah Rasulullah yang tak pernah sedetik pun waktu luangnya terlewatkan tanpa pergerakan selalu tampil rapi?

Pak Budi merenung sejenak. Saat itu juga, ia kembali masuk ke rumah. Diambilnya sebuah buku. Buku itu berjudul ‘Akhlak Nabi’. Lambat Pak Budi membuka helai demi helai halaman buku. Dan…. “Benar. Anakku memang benar!” suara Pak Budi perlahan.

Mata Pak Budi masih tertuju pada halaman buku yang berisi sebuah hadits Rasulullah saw. Artinya, “Sesungguhnya, kamu akan bertemu dengan saudara-saudara kamu. Rapikanlah busana kamu. Dan bersihkanlah kendaraanmu. Sesungguhnya Allah swt. tidak suka dengan hamba yang jorok, lagi dekil.”

Sejak itu, Pak Budi berubah perlahan tapi pasti. Ia mulai pakai kemeja. Sesekali dengan minyak wangi. Cuma jas yang masih belum ia terima. Entah kenapa, seleranya belum nyambung dengan busana yang satu ini. Tapi, itulah Pak Budi.

Ah, bahagianya jadi bunga. Enak dipandang, nyaman didekati. Lagian, bagaimana mungkin bisa merubah masyarakat kalau mereka tak mau mendekat. Itu namanya sulap. Bukan sulap, bukan sihir. Orang khilaf, kurang zikir. (emc)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved