Taat pada Pemimpin, Ada Batasnya Lho!

Namun, ada satu hal yang tak perlu kita taati, yakni berbuat maksiat. Ya, jika pemimpin memerintahkan kepada kita untuk berbuat maksiat

Taat pada Pemimpin, Ada Batasnya Lho!

SERAMBI UMMAH.COM - SEBAGAI orang yang dipimpin sudah barang tentu kita harus mentaati pemimpin. Segala kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin mesti kita ikuti. Karena mentaati seorang pemimpin itu sudah menjadi kewajiban kita. Namun ternyat, tak selamanya kita harus taat pada pemimpin. Mengapa? Karena mentaati pemimpin juga ada batasnya.

Dalam hadis riwayat Ibnu Umar RA tentang Nabi SAW bersabda, “Mendengar dan taat kepada pemimpin Muslim adalah kewajiban baik dalam hal yang ia sukai atau ia benci, selama ia tidak diperintah untuk berbuat maksiat. Apabila diperintah untuk berbuat maksiat, maka tidak ada (kewajiban) untuk mendengar dan taat,” (Shahih al-Bukhari hadis no. 2735).

Rasulullah telah menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mentaati perintah dari seorang pemimpin. Segala peraturan yang ia kemukakan, baik yang kita suka atau pun tidak mestilah kita taati. Namun, ada satu hal yang tak perlu kita taati, yakni berbuat maksiat. Ya, jika pemimpin memerintahkan kepada kita untuk berbuat maksiat, maka kita tidak memiliki kewajiban untuk mentaatinya.

Coba kita perhatikan dalam firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 59.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa “taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya”, tapi mengapa tidak ada ungkapan “taatilah ulil amri di antara kamu”? Nah, dari sinilah dapat kita ketahui bahwa ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya itu sudah dikatakan sebagai sesuatu yang pasti. Dengan mentaati keduanya, maka insya Allah kita akan selamat.

Lain halnya dengan ulil amri. Pemimpin itu hanyalah manusia biasa, sama seperti kita, yang tidak mendapatkan mukjizat seperti apa yang dimiliki Rasulullah SAW. Sebagai seorang manusia, pasti pernah melakukan khilaf, maka kita tak bisa selamanya mentaati pemimpin. Jika apa yang diperintahkan baik, maka ikuti, namun jika tidak maka tidak perlu juga untuk kita ikuti. Itulah sebabnya, dalam ayat tersebut tidak dikatakan “taatilah ulil amri”.

Oleh karena itu, sebagai orang yang dipimpin, kita harus bisa lebih selektif terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin. Kita harus bisa menelaah kembali, apakah yang diperintahkan itu baik bagi kita dan sesuai dengan akidah kita atau kah tidak. Jadi, ketika diperintah oleh pemimpin, jangan langsung Anda taati, karena boleh jadi akan menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam lubang penyesalan tiada akhir. Wallahu ‘alam. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved