Breaking News:

Manjanya Seorang Istri

Ia menerjemahkan manja sebagai kekanak-kanakan, cengeng, kurang tegar, lemah pendirian, dan masih banyak sifat lain.

Editor: Halmien
Manjanya Seorang Istri

SERAMBI UMMAH.COM - TAK semua orang suka bunga. Ada yang menganggap bunga sebagai simbol kelemahan: pembuat lalai dan pembunuh keberanian. Mereka pun menjauhi bunga. Tapi, bunga tetap bunga. Harum. Indah. Menawan.

Sulit mengungkapkan kata yang pas buat suami yang bingung dengan manja sang isteri. Memang, manja buat sebagian suami bisa menyenangkan dan menyegarkan. Ada dunia lain yang ia masuki. Baru dan menarik. Sesuatu yang baru biasanya menyegarkan.

Tapi, ada sebagian suami yang tak suka dengan manja. Ia menerjemahkan manja sebagai kekanak-kanakan, cengeng, kurang tegar, lemah pendirian, dan masih banyak sifat lain. Pokoknya, manja serupa dengan kelemahan. Dan Islam tidak suka dengan kelemahan. Dengan kata lain, Islam benci dengan kemanjaan. Benarkah?

Perasaan itulah yang saat ini menggoyang konsentrasi Gani. Satu tahun sudah bahtera rumah tangganya berlayar. Sebuah waktu perjalanan yang tergolong muda. Bahkan, belum apa-apa. Jangankan samudera, pantai tempat berlabuh pun masih jelas terlihat.

Walau belum jauh, dan ombak belum menjadi gelombang besar, Gani tak mau hilang waspada. Pengalaman membuktikan, tidak sedikit kapal karam di tepian pantai. Bisa salah kemudi sehingga nabrak pantai berkarang, atau kapalnya sudah bocor. Sejauh itukah tafsiran Gani dengan manja isterinya?

Sebenarnya, Gani bingung. Isterinyakah yang tergolong super manja. Atau, ia sendiri yang terlalu kaku dan tegas. Tak pernah terbayang Gani kalau ia akan beristeri seperti itu. Dalam bingkai pandangnya, semua akhwat berjilbab pasti tegas: bicara singkat dan padat, tak boros senyum, pantang merayu. Seperti itulah perkiraan Gani ketika meminang isterinya.

Tapi, dunia nyata ternyata berbeda dengan yang maya. Pandangan bisa mengira, tapi faktalah yang akhirnya bicara. Isteri Gani begitu lembut. Bahkan, teramat lembut. Sungguh di luar jangkauan perkiraan Gani. “Kang, pulangnya jangan malam-malam, ya. Nanti masuk angin. Hati-hati, ya, Yang!” Ungkapan itulah yang tiap hari mengantar kepergian Gani ke tempat kerja. Alunannya begitu merdu.

Pernah juga Gani lembur kerja hingga malam. Selepas telepon kantor berdering, suara merdu sang isteri kembali menari-nari di telinga Gani. “Kang, pulangnya teu kenging malem-malem atuh. Teteh sepi, nih, Kang!” Dan suara senyum renyah pun sayup-sayup terdengar menutup pembicaraan.

Apa yang salah dari manja isteri Gani? Mungkin, sebagian suami sama sekali tidak menganggap itu masalah. Bahkan, mungkin terhibur. Cinta yang mulai lelah pun menjadi segar. Tapi, buat Gani lain. Manja isterinya membuat ia mengukur diri. Ada apa dengan saya?

Seperti itulah keadaan Gani. Sering ia memuhasabah diri. Ini anugerah, atau bentuk teguran dari Allah. Memang, semasa lajang, Gani dikenal teman-temannya begitu tegas. Terutama, terhadap perempuan. Ia akan bicara seperlunya, tanpa basa-basi sedikit pun. Jangankan senyum, pandangan pun cuma sesekali mengarah ke lawan bicara. Ia tidak akan meladeni seorang perempuan yang bicara dengan penuh kreasi. Setiap kali itu menggejala, mulutnya selalu memotong, “Intinya?”

Halaman
12
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved