Anak yang Dibesarkan dengan Doa

Namun, lagi-lagi balita berumur empat tahun itu terjaga, ia menarik jari ibunya yag masih menempel di kepalanya. Sang ibu pun ikut terjaga

Anak yang Dibesarkan dengan Doa

Dimulai dari Doa

Menanamkan keyakinan pada anak bahwa ada kekuatan yang Mahaperkasa dibandingkan apa yang manusia mampu lakukan adalah bagian dari menanamkan iman. Bahwa kekuatan manusia justru terletak pada kepasrahannya pada Allah Subhanahu Wata’ala. Memperlihatkan pada anak bahwa ada hal-hal yang terjadi dengan kekuatan doa, seperti kisah-kisah Rasulullah dalam peperangan, akan menambah keyakinannya bahwa doa untuk memperoleh pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala adalah kebutuhan yang tak dapat ditinggalkan.

Maka, alangkah indahnya, bila kita selalu meyakinkan pada anak bahwa Allah Subhanahu Wata’ala selalu sayang padanya. Kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala lebih besar dari apapun yang mampu dilihat oleh panca indera kita. Karena itu, kita selalu bisa melihat dan merasakan kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala, walau kita tak dapat melihat Allah Subhanahu Wata’ala saat ini. Pemahaman-pemaham inilah yang akan mendekatkan anak pada Allah Subhanahu Wata’ala, merasa bahwa Allah Subhanahu Wata’ala disisinya dan selalu memperhatikannya.

Kedekatan dengan Pencipta akan memudahkan semua hal yang dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang kelak akan meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wata’ala dimuka bumi ini. Semakin lekat hati mereka dengan doa-doa yang selalu dipanjatkannya, maka dengan izin-Nya akan semakin lembut hatinya untuk tunduk pada titah-Nya. Hingga kalimat-kalimat-Nya pun akan semakin kokoh mengakar dalam hatinya. Menjadi tolak ukur kebenaran, menjadi kompas kehidupan, dan kelak ia akan benar-benar membaktikan dirinya sebagai orang-orang yang membela agama Allah Subhanahu Wata’ala.

Semua bermula dari doa. Dari ketundukkan hati yang membawanya pada kesalehan dan ketegapan untuk menjadi prajurit Allah SWT. Layaknya generasi saleh diawal bersinarnya Islam, yang berjalan tegap menghadapi berbagai kemusykilan dengan hanya berharap pada pertolongan-Nya saja. Yang gagah menantang para penguasa dunia dengan ketundukkan pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Yang meninggikan jiwa karena kebanggaannya menjadi hamba Allah dan bukan karena apa yang digenggamnya.

Semua bermula dari doa. Dari permohonan dan ketakutan tidak dipedulikannya iman dan pengorbanannya oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Maka, alangkah indahnya bila kita pun menjadi contoh bagi anak-anak kita tentang bagaimana memasrahkan diri dalam doa. Meminta bukan karena ingin menjadi mulia dimata manusia, melainkan karena ingin diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan dengan apa yang diberi-Nya. Memulai dengan doa, bukan karena ingin berhasil dan diiringi decak kagum manusia, tetapi karena yakin bahwa penentu akhir dari apa yang kita usahkan hanyalah Allah saja.

Maka, marilah memulai dengan doa. Agar anak-anak kita menjadi orang-orang yang saleh dan selalu melakukan apapun dalam payungan doa. Karena, doa kitalah yang akan menuntun hatinya untuk selalu berdoa. (hdc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved