Breaking News:

Jilbab Pocong

Jilbab ya itu-itu saja dari pijakan kaki pertama kali di Polandia sampai melahirkan sampai berganti kartu izin tinggal tetap jilbabnya itu aja.

Editor: Halmien
Jilbab Pocong

SERAMBI UMMAH.COM - BICARA fashion, dua jempol tangan plus jempol kaki untuk kreativitas saudara di tanah air. Ke sini-sini hijab juga semakin berwarna. Di tangan anak negeri, trend hijab semakin berwarna.

Kalau bicara fashion hijab ,Saya angkat tangan tanda menyerah selalu tidak update. Jilbab ya itu-itu saja dari pijakan kaki pertama kali di Polandia sampai melahirkan sampai berganti kartu izin tinggal tetap jilbabnya itu aja. Balik merantau dari Norwegia tetap kagak ada yang berubah. Kalau kata adik, selera saya memang tidak fashionable. Atau yang paling ekstrem bikin muka asem waktu ada komentar ngacoh singgah di telinga.

“Nikah ama bule juga, gayanya kampungan bangat.”

Hihihi sadis amat perang fashion di tanah air. Alhamdulillah saya mah biasa aja, mau gimana lagi saya anti ribet apalagi sudah punya bayi ini mau mikir fashion yang aneh-aneh nggak sempat dan nggak mampu.

Alhamdulillah suami juga suka yang sederhana, make kerudung lama bangat aja dikomentarin apalagi sampai makai peniti berlapis-lapis. Ampun sis bisa kena semprot dan ketinggalan bus.

Pas lagi bertukar kabar dengan saudari ,saya dikabari kalau sekarang ada tren jilbab baru namanya jilbab pocong. Kirain saya dia bercanda, khan memang ada foto lucu-lucu ya terkait trend jilbab ini. Pas dia sodorin foto langsung berasa ketinggalan fashion, kreatif bangat sis! Tepok jidat ulang-ulang.

Lah, kerudung saya mah apa atuh! Kerudung instan siap tempur semua. Hahaha. Saya bukan mau mengkritisi selera mode ya sis, hanya saja ada yang ingin saya sampaikan. Kewajiban kita khan saling menasihati bukan bermaksud menggurui ya.

Mau se-fashionable apapun yang penting tidak berlebih-lebihan yang melewati kaidah syariat sebagaimana yang sudah diatur dalam Al-quran: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahanpandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka,atau putera-putera suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atauputera-putera saudara lelakimereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam,atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,Hai orang-orang yang beriman supayakamu beruntung.” (QS An Nuur:31)

Bukan bermaksud membatasi kreativitas tapi memang sesuatu yang berlebihan itu kurang baik. Aturan main mengenai hijab, jilbab, kerudung sudah ada petunjuknya. Silahkan berkreasi asal jangan melewati border, bisa kena penalty. maksudnya, berlebihan ini jadi memberatkan, padahal Hijab sendiri punya tujuan memuliakan kaum perempuan khan, sis? Nanya dalam hati aja.

Tali pocong identiknya khan buat mayit (orang yang sudah meninggal). Alhamdulillah bila memang kita berniat mempersiapkan diri sebagai ‘camat’ alias calon mayat tapi baiknya bukan langsung ke fashion fisik, apa tidak risih, sis? pas lagi di jalan disangka mayit hidup. Hihihi, membayangkan saja saya nahan geli dan senyum-senyum tumpul nih.

Kalau saya ceritakan pengalaman berhijab di Jablonna ini bisa buat tulisan berlembar-lembar buat curhat. Pasalnya sis, baru saja kemarin ada madam yang hampir nabrak pintu apartemen lantaran beliau takjub lihat saya berjalan dorong stroller. Aisha sementara ini dipakaikan topi khawatir dia kena rasis. Alhamdulillah penampakan Aisha nggak ada bedanya sama anak-anak Polandia cuma emaknya ini yang nggak bisa boong muka Asia plus kerudungnya khas Muslim ini yang bikin beda.

Mau bagaimana lagi sudah jalan hidup sebagai satu-satunya keluarga Muslim di sini. Di lain kesempatan sis ada dua ibu-ibu nunjuk saya. Ya Allah berasa mau kabur ke Haugesund lagi. bisa bebas jalan-jalan karena Norwegia hukumnya kuat kalau di sini wallahualam deh. Terima nasib.

Tidak terbayang kalau saya ikut-ikutan fashion jilbab pocong. Saya jamin tambah horor dah cerita berhijab di Polandia. Bagaimana bisa pocong Indonesia sampai ke sini? apa nggak sekalian ekspor seperangkat alat pemakaman.

Fashion sah-sah saja, kalau sudah berlebihan jadinya air bah hilang esensi berhijab itu sendiri. Begitulah pendapat saya terkait trend jilbab pocong. Jangan terlalu dibuat ribet kalau memang sederhana itu indah dan bermakna ya sis. (ipc)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved