Breaking News:

Episode Seperti Nabi Nuh dan Asiyah

Memang ada wanita-wanita yang ditaqdirkan Allah untuk menjalani episode hidup layaknya Asiyah. Kasus-kasus pemurtadan bisa menjadi contoh

Editor: Halmien
Episode Seperti Nabi Nuh dan Asiyah

Setelah menikah beberapa waktu, baru ketahuan siapa sesungguhnya sang istri. Ternyata sang istri memiliki mulut yang benar-benar tidak terjaga. Suka mencaci maki orang lain, menjuluki orang lain dengan kata-kata buruk, bahkan tetap tak bisa menahan diri untuk tidak menuduh dan melaknat orang lain dengan kalimat yang amat tidak pantas diucapkan oleh wanita muslimah. Ternyata wanita dengan tutur kata lembut tidak menjamin baik juga kalimat yang terucap lisannya, bisa jadi sangat kasar dan mendholimi. Sebagai pengemban dakwah, sang istri pasti tahu bahwa Allah berfirman, ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) bisa jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujuraat: 11)

Rasulullah SAW juga bersabda: Mencaci maki pada seorang Muslim berarti fasik(melanggar agama) dan memerangi orang Muslim berarti kafir” (HR. Bukhori danMuslim).

Dalam hadits yang lain, riwayat Bukhori dan Abu Dzar ra. Rasulullah SAW bersabda: “Tiada seorang yang memaki orang lain dengan kata fasik atau kafir, melainkan kalimat itu kembali pada dirinya sendiri, jika tidak benar demikian keadaan orang yang dimaki.”

Atau kasus lain yang menimpa seorang wanita shalehah. Tak pernah menyangka ia bahwa suaminya tak jujur saat taaruf. Ternyata rumah dan harta yang dimiliki sang suami jauh hari sebelum menikah adalah dari hasil aqad riba. Hutang menumpuk di bank. Tak dikira sama sekali karena sang suami pun aktif mengaji dan beramar ma’ruf nahi munkar. Ketika diingatkan dengan baik-baik bukannya berubah, tapi justru semakin hobi menambah kekayaan dengan aqad yang sama. Mobil pun dibeli dengan hutang riba. Suami bukan tak tahu bahwa Allah telah berfirman, ” “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS Al-Baqarah: 275).

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah.” (QS Al-Baqarah: 276).

Dari Jabir ra, ia berkata. “Rasulullah saw melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama.” (Shahih: Mukhtasar Muslim no: 955, Shahihul Jami’us Shaghir no: 5090 dan Muslim III: 1219 no: 1598).

Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw bersabda, “Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3539 dan Mustadrak Hakim II: 37).

Kedua kasus di atas hanyalah sebuah contoh. Fenomena yang terjadi di masyarakat lebih memprihatinkan lagi. Banyak wanita dan pria yang merasa telah salah memilih, ada yang karena ternyata pasangan berperangai kasar dan hobi selingkuh. Sebab ternyata sang suami atau istri amat keras hati saat nasihat taqwa diberikan, bahkan sangat keras kepala dan menantang saat diingatkan kebenaran. Bukannya berubah menjadi lebih baik, tapi justru semakin buruk.

Sebagai manusia beriman, tentu tak ada satupun yang ingin mengalami seperti kasus di atas. Oleh karena itu, sangat bijak bila memilih pasangan hidup dengan hati-hati. Apalagi kelak ia yang akan menjadi ibu atau bapak anak-anak kita. Baik laki-laki maupun wanita sama saja, yaitu menjadikan panduan untuk memilih pasangan karena agamanya sebagai pertimbangan utama. Rasulullah bersabda, ” dinikahi wanita karena empat perkara, hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah karena ketaatannya dalam beragama, niscaya akan beruntung,”(Muttafaq’alaih).

Namun demikian agama seseorang, tidak bisa dilihat dari tampilan luar saja. Hanya atribut fisik bisa saja menipu. Carilah informasi dari orang-orang yang netral seperti tetangga atau teman kerja. Bukan dari kawan ngajinya saja karena biasanya hanya yang baik-baik saja yang terlihat. Tapi kumpulkanlah yang dhahir sebanyak mungkin, agar tidak seperti membeli kucing dalam karung yang sangat indah. Yang akan menjadi pasangan kita adalah orangnya, bukan majelis taklim atau ormas yang diikutinya. Ormas tempatnya biasa berkiprah bisa jadi bagus, tapi belum tentu dengan para pengembannya. Dua contoh kasus di atas telah membuktikan itu.

Halaman
1234
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved