Breaking News:

Episode Seperti Nabi Nuh dan Asiyah

Memang ada wanita-wanita yang ditaqdirkan Allah untuk menjalani episode hidup layaknya Asiyah. Kasus-kasus pemurtadan bisa menjadi contoh

Editor: Halmien
Episode Seperti Nabi Nuh dan Asiyah

Berikut beberapa tips yang bisa dijadikan sedikit patokan saat memilih pasangan agar benar-benar terjamin agamanya bagus, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan di kemudian hari :

1. Carilah informasi bagaimana seseorang bersikap dan berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Seorang lelaki yang biasa berbuat baik kepada kedua orangtuanya, maka ia pun cenderung memperlakukan istri dengan baik, mengasihi seperti ia mengasihi ibunya. Seorang wanita yang berbakti pada ibu bapaknya, ia akan juga mudah untuk menaati suaminya. Begitu juga sebaliknya. Logikanya adalah bagaimana ia akan menaati suaminya, sedangkan pada ibu yang melahirkannya saja tidak memuliakan bahkan menyakitinya.

Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa“. (QS. An Nisa’ : 36).un).“.

Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibubapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan).” (QS. Luqman : 14).

2. Bila calon pasangan telah memiliki harta benda, carilah informasi dengan cara elegan darimana dan bagaimana cara memperolehnya. Apakah dengan cara halal atau haram. Jangan sampai terjadi seperti contoh kasus di atas. Sebab seseorang ketika telah berani melakukan perbuatan dosa, bahkan sekecil apapun ia berani menyelisihi Allah dan rasulullah, maka di masa datang ia berpotensi melakukan pelanggaran syara yang lain jika tidak segera bertaubat.

Apalagi bagi seorang wanita, jangan sampai ia salah pilih suami yang menafkahi dari harta yang diperoleh dengan cara bathil, misalnya memberi makan, pakaian, dan menaungi anak istri di rumah yang diperoleh dengan cara riba, korupsi, suap, mencuri atau cara haram lainnya. Menikah dengan lelaki miskin jauh lebih baik daripada menikah dengan pria kaya tapi berani melawan perintah Allah.

Nabi SAW bersabda, ”Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan? (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan? (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan? dan (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan? (HR.At-Tirmidzî).

3. Lihatlah bagaimana pergaulannya dengan teman-temannya dan lawan jenisnya. Apakah ia termasuk orang yang menjaga kesucian diri atau justru sebaliknya sekalipun di dunia maya. Apakah ia termasuk yang biasa hidup campur baur dengan lawan jenis tanpa menggunakan batasan agama atau tidak. Orang yang biasa gaul bebas, di masa datang akan mudah berselingkuh apalagi ada setan Harut Marut yang selalu berusaha memisahkan suami istri melalui pelanggaran hukum Allah, oleh satu orang atau keduanya.

4. Lihatlah bagaimana hubungannya dengan saudara-saudaranya dan kawan-kawannya. Apakah rukun atau sering bermasalah. Apakah di mata mereka dinilai sebagai orang yang mudah berbagi, dermawan, suka menolong atau sebaliknya, pelit, egois dan lebih mementingkan diri sendiri. Apalagi menikah tidak hanya menyatukan dua manusia, tapi juga dua keluarga dengan karakter yang bisa jadi sangat berbeda.

5. Pertimbangkan juga sifat utama yang dimiliki. Apakah bijaksana, dewasa, penyabar, lembut hati, keras hati, angkuh atau kekanak-kanakan dan suka memperturutkan hawa nafsu serta kesenangan sendiri. Orang yang bijaksana dan dewasa lebih tenang saat menghadapi permasalahan. Memikirkan secara matang sebelum berbuat sesuatu, tentang segala resiko dan konsekuensinya. Sehingga tidak mudah menyalahkan orang lain atas pilihan perbuatan sendiri. Ini penting karena dalam rumah tangga, tidak akan luput dari berbagai permasalahan. Mengingat suami istri adalah dua orang yang mungkin banyak berbeda. Perbedaan yang seharusnya tak jadi masalah kala menyandarkan segala hal pada aturan Islam. Mengingat juga manusia adalah makhluk sosial, yang pasti akan bertetangga dan berhubungan dengan orang lain.

Halaman
1234
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved