Tetangga

Saya perhitungkan waktu keluar dari rumah tepat 6 menit, hingga saya tak perlu menunggu lama dalam udara dingin menusuk tulang.

Tetangga

Mereka juga tak terlalu banyak bepergian jauh, dan selalu antusias mendengar cerita saya tentang Indonesia. Mereka juga selalu bertanya apakah saya betah hidup di Norwegia.

Bergaul dengan para manula yang masih sehat ini juga menyadarkan saya akan pentingnya hidup sehat dan hidup aktif. Para tetangga saya ini hobinya mulai dari jalan pagi, mengunjungi peternakan, naik sepeda, kumpul-kumpul untuk ngopi, sampai berjemur, kalau ada matahari.

Pertemanan dengan mereka juga mengajarkan bahwa hidup ini tak selalu harus terburu-buru. Apa yang tertinggal masih bisa dikejar, kalau itu memang masih rizki kita.

Hidup bertetangga di negeri orang membuat saya semakin yakin bahwa mereka inilah keluarga terdekat kita saat ini. Mereka inilah keluarga besar yang bisa kita pilih dan andalkan.

Memang sudah jalan hidup kami untuk tinggal berdekatan dengan orang-orang lanjut usia, dengan satu perkecualian. Tetangga sebelah rumah adalah anak muda umur 27 tahun. Ia pemain sepak bola terkenal yang tak mabuk ketenaran. Tetap membumi dan tak ambil pusing dengan namanya yang berkibar di kancah sepak bola Norwegia.

Sama halnya dengan Ivar, bapak tua tetangga kami ini. Kerendahatian dan senyum ramahnya mungkin salah satu faktor yang membuatnya panjang umur dan tetap sehat.

Satu bus tertinggal, satu pelajaran berharga saya dapat. Hidup ini tak akan rugi, asal kita bisa memanfaatkan dengan baik. (ipc)

Berita Populer
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved