Kabah Menggugah Hati Saya untuk Menjadi Muslim

Semua berawal pada tahun 2010 silam, tepatnya ketika saya sedang membaca Alkitab. Saya merasa ada yang aneh dengan penjelasan Alkitab

Kabah Menggugah Hati Saya untuk Menjadi Muslim

SERAMBI UMMAH.COM - SAYA menjadi seorang muslim pada tahun 2010 silam. Menjadi seorang muslim adalah keputusan terbaik yang pernah dibuat dalam hidup saya.

Semua berawal pada tahun 2010 silam, tepatnya ketika saya sedang membaca Alkitab. Saya merasa ada yang aneh dengan penjelasan Alkitab, dan hati saya mulai bertanya-tanya mengenai agama. Akhirnya saya memutuskan untuk meneliti agama-agama lain, termasuk Islam. Saya memulainya dengan mempelajari Al-Quran.

Saya mencari tahu semua tentang Al-Quran. Mulai dari sejarahnya hingga kisah-kisah yang ada di dalamnya dan kemudian saya tertarik dengan Kitab yang masih utuh selama 14 ratus tahun itu. Dimulai dari ketertarikan itulah saya terus mencari tahu tentang Al-Quran.

Semua informasi yang saya dapatkan berakhir pada pembuatan Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Informasi ini membuat saya semakin tertarik dengan Islam.

Dan ketika saya tahu bahwa Ka’bah dibangun oleh mereka, saya benar-benar merasa marah. Karena saya telah merasa dibohongi oleh Gereja Katolik, mereka tidak memberikan informasi mengenai Ka’bah kepada saya selama saya belajar di sana.

Bagi saya Ka’bah sangat menakjubkan. Saya sangat tersinggung ketika tahu bahwa selama ini saya dibohongi mengenai Ka’bah. Pasalnya saya sangat mengagumi bagaimana Ka’bah diciptakan. Dan kini Al-Quran menjawab dengan jelas mengenai Ka’bah.

Berawal dari kisah Ka’bah itulah saya mulai merasa janggal dengan ajaran Katolik ini. Bagaimana bisa di satu sisi mereka mengajarkan Sepuluh Perintah Allah, dan di sisi lain mereka memiliki patung-patung untuk disembah. Ini tidak masuk akal bagi saya.

Dari rasa kejanggalan saya terhadap katolik dan keyakinan saya terhadap Islam, saya memutuskan untuk memeluk Islam ketika mendengarkan ayat suci Al-Quran dalam bahasa arab pada saat itu.Saya mengucapkan dua kalimat syahadat di depan komputer yang sedang memutar lantunan ayat suci Al-Quran dan sebulan kemudian saya melakukannya secara resmi di masjid.

Setelah saya memeluk Islam, saya melakukan shaum Ramadhan saya untuk yang pertama kalinya. Pada saat itu saya memiliki keraguan untuk melaksanakannya. Karena inilah kali pertama selama seharian penuh saya harus menahan lapar dan haus. Tapi saya mengumpulkan keyakinan bahwa saya bisa melakukannya. Saya berdoa kepada Allah agar Allah memampukan dan memudahkan shaum saya.

Setelah tiga hari saya melaksanakan shaum, akhirnya saya terbiasa dengan kondisi ini. Saya sangat senang melaksanakan ibadah shaum dan saya bangga dengan Islam. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved