Kiamat, Antara Tangisan Dan seruling

Di suatu sore, diantara bau keringat sisa lelah mengajar. Debu masih menempel berbaur dengan minyak alami kulit wajahku.

Kiamat, Antara Tangisan Dan seruling

“Mas Rayyan percaya, Allah sayang pada kita?”, kataku mulai mengarahkan nalarnya. Rayyan mengangguk dan mulutnya mengatakan ya. ”Jika Allah sudah sayang sama mas Rayyan, sayang sama mba Mikal dan Rafi. Sayang pada kita semua, kiamat itu tidak akan menyakiti kita. Kita akan diselamatkan oleh Allah yang menyayangi kita. Oke?”

”Aku ingin di sayang Allah terus”, anakku Rayyan bergumam. Nah … umpanku dicaploknya. Aku berbinar. Hatiku girang tidak alang kepalang. Ini yang aku tunggu-tunggu.

”Mas, kita semua bisa disayang Allah selamanya. Tetapi agar kita disayang Allah ada syaratnya”, aku pancing lagi ingin tahunya.

”Apa yah syaratnya?”, gooooooool. Aku mendapatkannya.

”Mas Rayyan sudah punya kok syaratnya, cuma masih harus ditambah. Kemarin, mas Rayyan sudah puasa Ramadhan sebulan kurang sehari karena sakit. Mas Rayyan sudah mau ngaji lagi. Allah pasti sayang. Tapi jika mas Rayyan solatnya juga rajin, hmmmm, Allah pasti sayang terus sama mas Rayyan. Tapi jika kita semua tidak mau puasa, tidak mau ngaji, tidak mau solat, Allah juga tidak mau sayang sama kita”. Ya Rabb, semoga ini membekas dalam kalbunya.

Aku senang bisa melukis tauhid di atas kanvas jiwa Rayyan. Harapanku, semoga lukisan iman itu lebih mempertegas syahadat di hadapan Rabbnya saat ia di alam rahim. Dan semoga, lukisan itu akan dibawanya sampai mati, sampai dibangkitkan dan menjadi bekalnya saat kiamat nanti. Aku kira, semua orang tua akan senang melakukannya.

Aku bersyukur masih ada anak yang menangis karena kiamat di zaman ini. Dunia sekarang adalah dunia lawakan, dunia sinteron dan dunia musik serta hiburan. Dunia seperti itu jarang mengajarkan tetesan air mata dan rasa takut pada Tuhan. Bahkan berita tentang kiamatpun diiringi gitar, gendang, perkusi, seruling dan goyangan. Pada akhirnya, berita tentang kiamat yang dihantarkan oleh musik tidak menggerakkan manusia mengingat kuburan, tetapi larut dalam kesyahduan suara seruling dan perkusi serta kesenangan.

Aku sempat melihat di televisi sang raja musik khusyu membawakan lagu kiamat. Tetapi tak ada satupun yang menangis. Bahkan walau dengan malu-malu, masih ada juga yang bergoyang. Tapi mungkin masih nyerempet-nyerempet relevan, sebab nanti di hari kiamat manusia bergoyang seperti mabuk, padahal mereka tidak mabuk. Hiii, serem lagi.

”(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras”.(terjemah QS. Al Hajj [22]: 2)

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.(terjemah QS. Abasa [80]: 33-37)

Halaman
123
Berita Populer
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved