Kiamat, Antara Tangisan Dan seruling

Di suatu sore, diantara bau keringat sisa lelah mengajar. Debu masih menempel berbaur dengan minyak alami kulit wajahku.

Kiamat, Antara Tangisan Dan seruling

Bagaimana kita tidak tersentak memahami berita dahsyat di atas? Bagaimana mungkin dahsyatnya kiamat dihiburkan dengan seruling, gendang dan perkusi? Sedangkan generasi terbaik ummat ini tidak kering-kering air matanya membayangkan kerasnya yaumul qiyaamah. Astaghfirullah.

Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tak bisa kalian lihat, mendengar apa yang tak kalian dengar, yaitu langit telah retak dan sudah semestinya langit berderak. Di sana tiada suatu tempat untuk empat jemari kecuali telah ada malaikat yang menyungkurkan dahinya bersujud kepada Allah. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian pasti sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian juga tidak akan bersenang-senang dengan istri di tempat tidur, kalian tentu akan keluar ke jalan-jalan untuk memohon perlindungan kepada Allah” lalu mata Abu Dzar pun berlinangan tangis dan berkata: “demi Allah, seandainya bisa, lebih baik aku menjadi pohon saja yang diambil daunnya”(HR Tirmidzi: 2312).

Mikal, Rayyan, Rafi, semoga tangis kalian tidak sia-sia. (emc)

Berita Populer
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved