Tariklah Nafas Panjang Menghadapi Anak-Anak Kita

Bergegas sang ibu menyiapkan air hangat untuk mandi si buah hati. Dan selanjutnya melakukan aksi tutup mulut untuk memperlihatkan bahwa ia masih marah

Tariklah Nafas Panjang Menghadapi Anak-Anak Kita

“Memangnya, kalau mandi hujan pasti sakit?” tanyaku.

“Ya, enggak juga, tapi kalo beneran sakit, yang repotkan aku-aku juga.” Jawabnya lagi.

***

Mulanya hanya ada rasa cemas di hati sang ibu, kemudian berubah menjadi kekesalan karena anaknya pulang senyum-senyum seperti tidak ada apa-apa, sementara sang ibu sudah bercemas ria. Maka berakhirlah dengan kemarahan sang ibu karena membayangkan anaknya akan sakit yang kemudian membuat sang ibu jadi repot.

Sementara si anak kaget ibunya marah, tidak menyangka, mengapa ibunya marah padahal dia merasa bahagia?

Main bola di saat hujan sangat mengasyikkan bagi si anak (jangankan anak-anak, orang dewasapun merasakan keasyikan yang sama), dan itu membuatnya merasa bahagia. Tidakkah kita ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak kita?

Kisah diatas merupakan contoh kecil dari begitu banyak peristiwa yang terjadi dalam interaksi antara kita dan anak-anak kita tiap harinya. Kemarahan kita memuncak hanya karena hal-hal yang sepele,…anak memecahkan piring atau mengotori baju baru yang kita belikan dll.

Memang sebagai seorang ibu kita dituntut memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi anak-anak kita,… Inilah pentingnya menarik nafas panjang ketika kemarahan memuncak, agar kita dapat berpikir ulang, perlukah kemarahan ini? Tepatkah? Adakah cara yang lebih bijak agar kita dapat melampiaskan kekesalan kita tanpa merusak kebahagiaan anak-anak kita?

Tentu saja ini bukan hal yang mudah, perlu latihan yang kontinyu. Kemudian kepada Si Ibu tersebut saya menganjurkan agar dia membuat program harian, diantaranya adalah mencanangkan hari tidak marah. Maka, pada hari yang telah dipilihnya, dia tidak boleh marah sama sekali pada hari itu, dia harus sekuat tenaga berusaha menahan diri untuk tidak marah (kecuali pada hal-hal yang melanggar batas-batas keharaman yang telah disyariatkan Allah tentunya).

Mulanya 1 kali seminggu, ditingkatkan per dua hari sekali, lama-lama menjadi tiap hari,…maka pada akhirnya, sekiranya kita istiqomah dengan latihan ini, kita akan lebih dapat mengendalikan amarah kita,…dan insya Allah dengan kesungguhan hati, kita dapat menjadi lebih sabar dalam menyikapi segala hal.

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved