Breaking News:

Pedagang yang ‘Tidak Bahagia’

Setelah menimbang-nimbang, si pedagang tersebut akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya

Editor: Halmien
Pedagang yang ‘Tidak Bahagia’

SERAMBI UMMAH.COM - ALKISAH, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi buta dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari ia bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, ia masih sibuk dengan mesin hitungnya. Menjelang tidur ia masih harus memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya.

Suatu pagi sehabis mandi, ia berkaca, ia baru menyadari rambutnya telah banyak yang memutih. “Ah.. aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja dan telah menghasilkan kekayaan begitu besar. Tapi aku tidak pernah bahagia. Kemana saja aku selama ini?”

Setelah menimbang-nimbang, si pedagang tersebut akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian. “Duh, hidup ini begitu susah. siang malam bekerja tapi kita tetap saja miskin,” kata seorang penduduk berkeluh kesah.

Di tempat lain, pedagang itu mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan tapi tetap saja saudagar itu sibuk berkata-kata kotor. Sepertinya ia juga tidak bahagia.

Si pedagangpun meneruskan perjalanannya hingga ia tiba di sebuah hutan. Saat ia beristirahat, tiba-tiba ia mendengar derap langkah seseorang dan suara lantang, “Terima kasih, Tuhan, hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini pula aku telah makan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku.”

Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang akhirnya bergegas mendatangi asal suara tadi. terlihat seorang pemuda berbaju lusuh terlentang di rerumputan. Matanya terpejam dan wajahnya tampak bahagia.

Mendengar suara langkah si pedagang, si pemuda pun membuka matanya. Lalu pemuda itu tersenyum dan menyapa ramah, “Halo, Pak tua, silakan beristirahatah di sini!”

“Terima kasih anak muda. Tetapi bolehkah bapak bertanya sesuatu?” kata si pedagang.

“Oh, tentu saja, silakan!”

“Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?”

“Oh, tentu saja tidak, Pak tua,” lalu pemuda itu melanjutkan, “Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, yang penting aku bisa mengerjakannya sebaik-baiknya. Dan yang pasti aku tidak harus melakukan pekerjaan yang sama setiap harinya. Aku senang jika yang kubantu senang, dan dengan begitu, pasti Tuhan pun ikut senang, bukan? Dan akhirnya aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberian ini!”

Sahabat, lihatlah, lagi-lagi kehidupan mengajarkan kita tentang kebijaksanaan. Pada kisah di atas kita diberitahu bahwa materi bukanlah segalanya. Namun, jangan pula dijadikan dalih atau argumen untuk kita bermalas-malasan tidak mencari kehidupan. Bukankah pergi haji pun membutuhkan biaya? Nah, itulah jawabannya. Materi memang bukan segalanya, tapi jika dihiasi dengan bumbu-bumbu kesyukuran maka materi itu akan menjadi sumber keberkahan dan kebahagiaan.

Mari bersyukur dan senantiasa bersyukur. (ipc)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved