Breaking News:

Nasehat Pasca Hari Raya

Sesungguhnya cinta seseorang itu akan kelihatan saat orang lain sedang berada dalam kesempitan. Sesungguhnya dalam infak terdapat sekian keajaiban

Editor: Halmien

Tugas kita adalah menebarkan keadilan lewat aksi dan bukan kata, lewat bukti dan bukan semboyan belaka, lewat makna bukan melalui kata-kata bersayap yang mungkin penuh pesona tapi sebenarnya penuh racun berbisa.

Tugas kita adalah meratakan kesejahteraan lewat tangan-tangan sederhana kita, lewat pikiran-pikiran jernih kita. Melalui tangan kekuasaan kita jika kita telah memilikinya, lewat lisan-lisan kita jika kita mampu mengungkapkannya.

Jangan ada dusta diantara kita. Keadilan hanya semboyan belaka, persatuan hanya di sekeliling kelompok kita, pembangunan hanya untuk segelintir manusia, kesejahteraan mengerucut hanya di rumah-rumah kita.

Jangan ada dendam diantara kita. Ummat ada di atas segalanya, melampaui batas-batas partai, golongan jamaah apalagi suku yang oleh Sang Nabi Agung disebut sebagai benda busuk dan bau. Tak ada wewangian dalam fanatisme sempit kita, tak ada semerbak surga dalam sekat-sekat yang kita bangun yang membuat kita tidak peduli pada sesama.

Sudah terlalu lama kita dibentur-benturkan dengan saudara kita sendiri, diadu domba dengan bangsa sendiri, dilaga dengan saudara seiman kita sendiri. Sehingga kita mengalami keletihan pikiran, jiwa dan raga sebelum kita berhadapan dengan orang-orang yang memusuhi kita atau tidak suka kalau kita bersatu di bawah payung Islam yang lebih besar bukan di payung-payung kecil yang sering kali membuat kita lupa bahwa kita memiliki payung besar : Islam.

Sesungguhnya kesatuan ummat adalah dambaan semua. Cita setiap kita, obsesi setiap muslim yang kini sedang berpuasa. Dan akan menyambut Hati Raya. Persatuan adalah kekuatan dan cerai berai adalah kelemahan. Kita tahu bersatu itu sebuah energi besar tapi kita tidak tahu cara merealisasikannya. Kita tahu bahwa persatuan itu adalah nikmat besar, namun kita tak sanggup untuk menggapainya. Kita tahu bahwa puasa mengajarkan kita makna persatuan dan solidaritas antara sesama, tapi kita menyekatnya dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek yang akan segera sirna.

Hari Raya , menjadi mementum besar kita untuk memompa kembali kesadaran masing-masing kita bahwa kita dilahirkan untuk menjadi pemimpin dunia, menjadi imam peradaban dunia. Dan dia dia akan lahir jika kita mampu menyatukan visi, misi dan langkah untuk menggapainya.

Jadikan firman Allah di bawah ini selalu menggerakkan kita mmenjadi imam peradaban dunia :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(Ali Imran : 110).

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (Al-Baqarah : 143).

Halaman
1234
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved