Belajar "Menjaga Masjid" dari Hajj Hamdo

Tapi yang membuat panas hati bukan itu. Manusia hidup dan mati, datang lalu pergi, berjuang dan syahid, lahir dan kembali.

Belajar

Perang hebat pecah sepanjang tujuh hari!

Hajj Hamdo tak lupa perjanjiannya dengan Allah. Melihat Mujahidin berkumpul depan kota, beliau menyelinap masuk Masjid, mengeraskan speaker, lalu tanpa henti mengumandangkan takbir yang terus diingat sampai hari ini! Memberi tanda pada para petarung di penjuru kota, Ini saatnya bertumpah darah membela agama-Nya!

Kepahlawanan, ianya yang kan bangkitkan jiwa-jiwa yang mati, menuntun para pengecut menuju satu pelita, membuat para pemberani bangkit dan bergerak! Maka tak lama susul menyusul seisi warga kota berkumpul di sekeliling Masjid, menjaga sang Imam dengan jiwa mereka

“Bila harus mati, matilah kami bersamanya!”

Beberapa jam telah berlalu sejak mesiu pertama menyalak, perang sengit telah berkecamuk, Mujahidin dan Nushairiyah bertempur sengit, saling balas kematian kawannya. Sementara di Masjid, Hajj Hamdo masih setia menjaga pos sebagai penyemangat Mujahidin ketika akhirnya sebuah ledakan besar mengguncang Masjid, meratakannya dengan tanah, menerbangkan Hajj Hamdo dan kawanannya ke langit, Menjadikan mereka insyaAllah dalam daftar para syuhada…

Allah menepati janji-Nya pada siapa saja yang menepati janji pada-Nya, dan Allah tidak menghentikan kumandang takbir yang sukacita menyeru nama-Nya dalam Keagungan serta penghormatan. Takbir Hajj Hamdo bukan yang pertama di muka bumi. Tapi ianya tercatat di sini, pada hati-hati para pejuang. Takbir lainnya tetap sama,

Allahu Akbar!!!

Di tempat lainnya masih berkumandang, diserukan oleh mereka yang setia pada agama Allah, di tanah Suriah, Turki, Papua, atau dimana saja…

Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! (arc)

Berita Populer
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved