Breaking News:

Tujuh Kunci Penjuru Kebahagiaan

Hingga tak kita kenali bahwa kesuksesan dan kebahagiaan adalah apa yang terlahir dari dalam hati. Ya, bahagia itu sederhana dan bahkan sangat dekat.

Editor: Halmien

“…. Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang…” (QS: An-Nur [24]:26).

Keenam, anak yang menyenangkan

Jadilah mereka sebagai qurota a’yun (sebagai penyejuk mata) yang mendatangkan kebahagiaan kala memandangnya, yang menyejukkan kala mendengar suaranya dan menghangatkan dalam dekap peluknya. Mereka buah hati yang menyenangkan kala di dunia dan menghaturkan pahala kala di surga. Sungguh bahkan betapa indah kala mereka mampu menjadi bagian dari anak-anak yang berjiwa Qur’ani dan mencintai Rabb-nya.

Ketujuh, lingkungan Madani

Kita bisa belajar dan melayani pada lingkungan. Hal ini menyemangati kebahagiaan pribadi kita untuk mendorong terciptanya kebahagiaan sesama antara kita.

Amal sosial (al-ijtimaiyah) mencipta lingkungan agar lebih madani dan sejahtera. Sehingga itu, bahagia bukan hanya milik aku, kamu atau dia. Tapi kita.

Memang tidak semua lingkungan itu terkondisikan dalam rengkuh kebaikan. Semisal dengannya adalah penduduk Thaif kala masa nubuwwah. Terketika Rasul yang tengah berduka lantaran paman dan istri beliau wafat, itu hijrah ke dataran mereka, Thaif. Sikap kafir Quraisy semakin keras terhadapnya. Bahkan mereka mengerahkan anak-anak mereka untuk menolak kehadiran Rasul. Karenanya, anak-anak kecil itu pun melempari beliau dengan bebatuan di sepanjang perjalanan. Hingga kedua telapak kaki yang senantiasa membengkak lantaran berlama-lama kala shalatnya itu pun berdarah-darah. Kening dan seluruh tubuh beliau mengaromakan darah segar yang mengalir.

Rasa sakit yang membilur tubuh beliau menyeret kedua kaki beliau untuk sampai di salah satu kebun diantara kebun-kebun yang ada di Thaif. Di sanalah beliau menyandarkan punggungnya yang harum di sebatang pohon seraya berteduh. Beliau membalas perlakuan warga Thaif dengan sejuntai doa indah yang beliau panjatkan penuh khusyu ke mihrab Tuhannya.

“Ya Allah, kepadamu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia, wahai Dzat yang Maha Penyayang. Engkau adalah Rabbnya orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Rabbku. Kepada siapa engkau akan menyerahkan aku? Kepada orang jauh yang menatap marah padaku atau kepada musuh yang Engkau jadikan dia berkuasa atasku? Jika bukan karena kemurkaanMu lebih luas bagiku. Dengan cahaya wajahMu yang menyinari segala kegelapan dan menjadi baik segala urusan dunia dan akhirat, aku berlindung dari turunnya kemurkaanMu padaku. kepadaMu aku mengakui segala dosa dan kesalahan hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolonganMu.”

Allah perkenankan doa dari sang kekasih, karenanya menjadi baiklah penduduk Thaif. Mereka diberkahi dengan banyak kebaikan dari Rabbnya. Mereka berubah menjadi lingkungan madani yang mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan bagi sesamanya. (hdc)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved