Mengolok-olok Pelajar Muslim di Amerika Serikat

Tiga tantangan utama yang muncul sebelum pelajar Muslim menghadiri sekolah umum adalah: menu makan siang, liburan

Mengolok-olok Pelajar Muslim di Amerika Serikat

Beberapa siswa mengatakan bahwa mereka merasa gugup dan tidak percaya diri ketika mereka harus menjelaskan mengenai perayaan Muslim. Siswa yang lebih tua menyatakan frustasi terutama dengan guru olahraga yang tidak mau tahu atau
tidak akan mengakomodasi mereka selama Ramadhan.

Dua sekolah distrik di New Jersey dan tahun ini di New York telah memberikan hari libur saat perayaan dua Hari Ied. Keuntungan tambahan dari sekolah distrik yang bisa membuka dialog dan pemahaman praktik keagamaan Muslim yang sering disalahpahami dan diejek seperti ibadah puasa sepanjang bulan Ramadhan dan penyembelihan hewan saat Idul Adha.

Nama anak laki-laki dan pakaian siswi Muslim

Semua siswa Muslim berbagi keprihatinan dan perasaan atas penerimaan mereka di komunitas umum. Secara umum, keprihatinan ini dipecah menjadi tiga bidang utama: pakaian, nama dan identitas. Siswa Muslim usia sekolah menengah dan tinggi lebih mungkin untuk berjuang menghadapi masalah ini ketimbang siswa usia sekolah dasar. Untuk anak perempuan, menjalani kewajiban agama bisa membuat mereka stres, terutama ketika masa transisi menuju pubertas di mana mereka harus menjelaskan penampilan “baru” mereka.

Memakai hijab menjadi sangat rumit oleh aturan sekolah distrik yang melarang menutup rambut, yang diklaim biasanya berhubungan dengan aktivitas geng. Anak-anak gadis juga menghadapi tantangan di kelas olahraga yang mengharuskan mereka mengenakan celana pendek atau melepaskan kerudung mereka. Beberapa siswa menyatakan bahwa siswi Muslim dengan orang tua imigran lebih mungkin mengalami intimidasi dibandingkan yang kelahiran Amerika ketika mereka menutup rambut mereka.

Tetapi sejak beberapa sekolah distrik membolehkan untuk mengenakan berbagai jenis pakaian ke sekolah selama masih terikat aturan, banyak siswi Muslim yang bebas untuk mengekspresikan kepribadian dan kewajiban agama.

Baik anak laki-laki maupun perempuan Muslim bergulat dengan nama mereka. Beberapa siswa mengakui bahwa mereka sengaja menggunakan nama samaran. Ada ketakutan jika seorang siswa memiliki nama yang mirip dengan tokoh-tokoh yang
dibenci AS seperti “Osama” atau “Saddam”.

Anak laki-laki yang paling merasakan efek negatif terkait nama, nama mereka bisa menyebabkan intimidasi dan olok- olok oleh rekan-rekan mereka. Salah satu siswa menyatakan kebenciannya bahwa nama sederhana yang telah umum bagi ummat Islam telah menjadi ajang fitnah.

Identitas terdaftar di urutan nomor satu perjuangan bagi siswa Muslim. Siswa harus berurusan dengan stereotip negatif dan fobia terhadap Muslim didorong oleh laporan media yang tidak berimbang terkait isu-isu “terorisme” dan pendapat media dari media-media konsertavif.

Beberapa siswa Muslim berupaya membagi laporan untuk diskusi politik di kelas yang penuh dengan informasi yang salah dan menyebabkan permusuhan yang membuat mereka tidak nyaman, takut atau marah. Beberapa siswa mengaku bahwa mereka merasa rentan jika terjadi sesuatu yang melibatkan ummat Islam di Amerika.

Halaman
123
Berita Populer
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved