Tunggu Ayah di Depan Gang

Dan anak yang mulai beranjak remaja itu tetap ceria menyambut. Sebagai ganti, ia akan minta digendong sampai rumah.

Tunggu Ayah di Depan Gang

Putri menjejalkan busa bonekanya yang menyembul keluar. Ditekannya hidung teman bermain yang catnya telah mengelupas itu. Boneka beruang berwarna cokelat terlihat kotor dan berdebu. Mata boneka itu sudah hilang sebelah dan mulutnya kotor karena Putri suka menyuapinya dengan tanah.

Gadis kecil berambut legam mulai jenuh, ia menyandarkan kepalanya ke tembok rumah orang, sesekali menatap di kejauhan. Berharap sang ayah muncul sambil membawa boneka yang dijanjikannya tadi pagi.

“Nanti sore ayah bawakan teman untuk bonekamu, tunggu Ayah di depan gang, ya.” Pesan lelaki itu setelah memastikan uangnya cukup untuk membeli boneka di pasar dekat pelabuhan.

Putri mulai gusar. Apakah ayah lupa arah jalan pulang? Seperti Ibu …, hiks …. Gadis itu mulai menangis. Buru-buru dihapusnya airmata.

***

“Siapa yang membuatmu menangis? Bawa ke sini. Biar Ayah tonjok orangnya,” tanya lelaki tangguh itu sambil pura-pura memutar kepalan tangan seperti di film kartun, ketika suatu kali melihatnya meneteskan air mata.

“Putri kangen Ibu.” Sang anak menggerakkan mulut. Saat itu dilihat kepiluan di garis keras wajah ayahnya.

Oh tidak, takkan disebut lagi wanita yang lupa jalan pulang itu, jika hanya membiaskan duka di wajah malaikat penjaga.

***

Putri menghembuskan napas dengan jemu. Memandang boneka yang ditaruh di sebelahnya sambil memeluk lutut.

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved