Nasib Pria Muslim di Prancis

Penelitian itu dilakukan oleh Montaigne Institute think tank yang mengirim ribuan tanggapan terhadap iklan pekerjaan yang dikirim melalui SMS

Editor: Halmien
Nasib Pria Muslim di Prancis

SERAMBI UMMAH.COM - PRIA Muslim empat kali lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan wawancara kerja di Perancis daripada Pria Katolik, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada hari Kamis (08/10/2015). dilaporkan Arabnews

Penelitian itu dilakukan oleh Montaigne Institute think tank yang mengirim ribuan tanggapan terhadap iklan pekerjaan yang dikirim melalui SMS.

Studi ini menemukan bahwa pria yang dikenal sebagai kaum Muslim memiliki 4,7 persen diminta untuk wawancara kerja, dibandingkan dengan 17,9 persen untuk pria Katolik.

Angka keseluruhan untuk pria dan wanita menunjukkan Katolik dua kali lebih mungkin untuk mendapat panggilan wawancara kerja.

Aplikasi pekerjaan mendiskriminasi orang-orang Yahudi itu hanya isapan jempol, terbukti dengan peluang 15,8 persen didapat oleh orang Yahudi untuk wawancara kerja.

Penelitian juga dilakukan oleh Marie-Anne Valfort, dosen senior di Universitas Sorbonne Paris, yang mengirimkan 6.231 tanggapan untuk iklan pekerjaan antara tahun 2013 dan 2014.

Mereka memiliki berbagai nama pertama sesuai dengan agama yang mereka yakini, seperti Dov dan Esther bagi orang Yahudi, Michel dan Nathalie bagi umat Katolik, dan Mohammed dan Samira bagi umat Islam.

Hasilnya luar biasa, mengungkapkan bahwa diskriminasi kuat terhadap Muslim dan Yahudi di Perancis.

Dalam kasus Muslim, bahkan lebih buruk dari diskriminasi yang dihadapi Afrika-Amerika dengan orang kulit putih di Amerika Serikat.

Valfort mengatakan penelitian ini hanya mengungkap sebagian kecil dari diskriminasi yang dihadapi oleh pelamar kerja karena tidak melanjutkan ke tahap wawancara.

“Ini mungkin di bawah-perkiraan tingkat diskriminasi, semua studi menunjukkan bahwa sistem diskriminasi ada pada setiap langkah perekrutan,” katanya.

“Citra Islam telah rusak parah di Perancis,” tambah Valfort.

“Studi menunjukkan bahwa Perancis secara otomatis mengelompokan Islam sebagai kaum ekstremisme agama dan penindas perempuan,” lanjutnya.

“Kedua image itu memberi diskriminasi yang sangat kuat, khususnya bagi Muslim laki-laki. Perekrut takut akan risiko peningkatan praktik keagamaan yang agresif di tempat kerja, sehingga menciptakan kelompok dengan risiko pembangkangan, “tambahnya.

Valfort juga menciptakan set non-agama pada kandidat untuk melihat bagaimana dalam mempengaruhi hasilnya.

Ketika Mohammed diidentifikasi sebagai seorang yang beragama sekuler, ia mendapatkan dua kali lipat peluang untuk mendapatkan wawancara kerja dibandingkan dengan Mohammed yang diidentifikasi sebagai seorang Muslim. (ipc)

  • Berita Populer

    Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved